Kabupaten Bogor (ANTARA) - Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti meresmikan penggunaan alat peringatan dini banjir berbasis komunitas di Bojongkulur, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Rabu.
Peresmian ditandai dengan penekanan sirene pengoperasian alat Automatic Water Level Recorder (AWLR) dan pengukur curah hujan yang dikelola Komunitas Peduli Sungai Cileungsi Cikeas (KP2C).
Alat tersebut merupakan hibah dari AIM Analytics Malaysia dan ditempatkan di jalur Sungai Cileungsi dan Sungai Cikeas, berdampingan dengan titik pantau manual (peil scale) serta CCTV milik KP2C.
Diana mengharapkan sistem ini meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi banjir, sekaligus memperkuat sistem peringatan dini berbasis data seketika.
“Karena ini di wilayah Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, tolong dikoneksikan supaya wilayah sekitar terbantu,” ujar dia.
Baca juga: Pemkot Bekasi pasang alat peringatan dini banjir
Ia menambahkan pengalaman menghadapi banjir di sejumlah daerah menjadi pengingat pentingnya kesiapan masyarakat serta dukungan teknologi dalam mitigasi bencana.
“Untuk itu, masyarakat harus siap menghadapi bencana, dan alat ini sangat mendukung sebagai sistem peringatan dini bahaya banjir,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya penataan kawasan sempadan sungai agar terbebas dari permukiman, serta perlunya penyediaan ruang terbuka hijau guna mengurangi risiko banjir.
Selain itu, pemerintah sedang menyiapkan rencana pengendalian banjir hingga 2028, termasuk pembangunan delapan kolam retensi yang saat ini masih dalam tahap perencanaan dan kajian.
“Semoga program bantuan JICA ini mulai lelang di 2027,” ujar Diana.
Baca juga: BNPB pasang sensor peringatan dini banjir lahar dingin di kawasan Gunung Semeru
Group Executive Director AIM Analytics Malaysia Reneir Tara mengatakan teknologi tersebut dirancang untuk memberikan waktu cukup bagi masyarakat dalam merespons potensi banjir.
“Teknologi ini menyelamatkan rakyat. Untuk itu, saya berharap sistem ini tidak berhenti di sini sebagai pilot project,” ujarnya.
Ketua KP2C Puarman menjelaskan alat AWLR akan memperkuat sistem pemantauan yang selama ini telah berjalan, seperti CCTV dan peil scale, serta meningkatkan akurasi informasi kepada masyarakat.
“Alat ini sangat membantu kami agar pelaporan yang kami lakukan selama ini kepada masyarakat akan lebih akurat dan lengkap,” katanya.
Menurut dia, sistem tersebut mampu mengirimkan data tinggi muka air dan curah hujan secara langsung ke perangkat ponsel pengurus dalam bentuk informasi status sungai, seperti normal dan siaga.
KP2C juga berencana berkoordinasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengkaji korelasi data curah hujan dengan potensi kenaikan tinggi muka air secara real-time.
Dalam kegiatan itu, Diana bersama sejumlah pejabat turut melakukan penebaran 7.000 benih ikan nila di Sungai Cikeas serta penanaman pohon sebagai bagian dari upaya menjaga ekosistem sungai.
Pewarta: M Fikri SetiawanUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026