Jakarta (ANTARA) - Lebih dari 1.100 warga Afganistan yang mengaku pernah bekerja dengan pasukan Amerika Serikat masih terjebak di Kamp As Sayliyah, Qatar, setelah pemerintahan Donald Trump membekukan program relokasi, ungkap laporan The Wall Street Journal.

Surat kabar itu melaporkan pada Selasa bahwa pejabat AS menyatakan Washington tengah bernegosiasi dengan sedikitnya tiga negara di Afrika Sub-Sahara dan Asia Tenggara untuk memukimkan kembali kelompok tersebut setelah tenggat penutupan bekas pangkalan militer AS pada 31 Maret terlewati.

Fasilitas tersebut menelan biaya lebih dari 10 juta dolar AS per bulan, sementara pemerintah Qatar mendesak agar segera ditutup. Moral para penghuni dilaporkan menurun tajam seiring ketidakpastian keputusan visa.

“Ketika tenggat waktu berlalu tanpa penjelasan atau tindak lanjut, harapan itu berubah menjadi keputusasaan,” kata Shawn VanDiver dari Afghan Evac, seraya menambahkan banyak dari mereka kini “seperti tahanan akibat ketidakmampuan birokrasi.”

Sumber: Anadolu



Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Editor : Feru Lantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026