Kendari (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Baubau, Sulawesi Tenggara mengimbau warga mengecek kesehatan di fasilitas kesehatan (faskes) terdekat untuk mendeteksi penyakit Tuberkulosis (TBC) seiring dengan tren peningkatan kasus dalam beberapa tahun terakhir di daerah setempat.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Baubau Yuslina saat dihubungi di Kendari, Rabu, mengatakan berdasarkan data, temuan kasus TBC pada 2025 mencapai 684 kasus atau meningkat dibandingkan dengan pada 2024 yang berjumlah 583 kasus.

"Kalau sudah bergejala TBC segera ke puskesmas, jangan tunggu sampai semakin parah dan menyebarkan ke anggota keluarga lain," katanya.

Catatan Dinas Kesehatan, tren kenaikan kasus di Kota Baubau terlihat signifikan sejak 2020 dengan 234 kasus, naik menjadi 332 kasus pada 2021, melonjak ke 548 kasus pada 2022, dan 533 kasus pada 2023.

Baca juga: Dinkes Baubau sosialisasikan pencegahan TBC anak
Baca juga: Segera periksa dahak jika batuk tak kunjung sembuh

Ia menyebut sepanjang 2020 hingga 2025, Kecamatan Wolio menjadi wilayah dengan temuan tertinggi yakni 681 kasus. Diikuti temuan luar wilayah 543 kasus, Batupoaro 416 kasus, Murhum 330 kasus, Kokalukuna 280 kasus, Betoambari 274 kasus, Lea-Lea 127 kasus, Sorawolio 124 kasus, dan Bungi 103 kasus.

"Kasus tertinggi ada di Kecamatan Wolio karena mobilisasi penduduk yang tinggi serta kondisi sanitasi yang sangat mendukung meningkatnya kasus TBC di wilayah tersebut," ujarnya.

Ia mengungkapkan seluruh temuan tersebut terdeteksi di 17 puskesmas, tiga rumah sakit, serta sejumlah klinik swasta.

Namun, ia menilai, rendahnya temuan di beberapa wilayah belum tentu mencerminkan kondisi sebenarnya karena masih banyak kasus di masyarakat yang belum terdeteksi.

Baca juga: Hashim sebut pembangunan 3 juta rumah untuk tekan stunting dan TBC

Selain TBC umum, Dinas Kesehatan juga memberi perhatian serius pada temuan TBC Resisten Obat (TBC-RO) atau kondisi pasien kebal terhadap obat standar, seperti Rifampisin atau Isoniazid.

Tercatat pada 2025 ditemukan 13 kasus TBC-RO, sedangkan pada 2024 sebanyak 24 kasus, 2023 sebanyak 28 kasus, dan 2022 sebanyak 17 kasus.

Ia menambahkan pasien TBC-RO memiliki potensi besar menularkan bakteri yang sudah kebal obat kepada orang lain.

Meski demikian, pasien tetap bisa sembuh total asalkan menjalani pengobatan secara teratur, walaupun membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan pasien TBC biasa.

"Jika tidak ditemukan dan diobati sampai sembuh, maka akan berkontribusi terhadap penularan di masyarakat. Secara epidemiologi, satu kasus bisa menularkan kepada satu hingga 10 orang setiap tahunnya," katanya.



Pewarta: La Ode Muh. Deden Saputra
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026