Jakarta (ANTARA) - Indonesia memperkuat kolaborasi internasional melalui partisipasi aktif dalam peluncuran Living High Seas Partnership di New York, Amerika Serikat (AS), yang merupakan inisiatif global dalam menjaga keberlanjutan keanekaragaman hayati laut, khususnya di wilayah laut lepas.

Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Kelautan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Miftahul Huda menyatakan keikutsertaan Indonesia dalam kemitraan ini merupakan bentuk penguatan kerja sama multilateral dalam menjaga kesehatan laut dunia.

“Kemitraan ini memiliki signifikansi strategis dan menjadi salah satu pelopor dalam penerapan area-based management tools,” ujarnya dalam siaran resmi di Jakarta, Selasa.

Miftahul menyatakan Indonesia berkomitmen mengimplementasikan area-based management tools (ABMTs) dengan memanfaatkan pengalaman pengelolaan kawasan konservasi nasional.

Baca juga: Indonesia bangun pusat riset rumput laut dunia di kawasan Teluk Ekas Lombok

Menurut dia, sebagai negara kepulauan terbesar yang berbatasan langsung dengan laut lepas di Samudera Hindia dan Pasifik, Indonesia memiliki kepentingan strategis dalam menjaga keberlanjutan ekosistem laut global sekaligus memperkuat posisi diplomasi kelautan internasional.

Living High Seas Partnership merupakan inisiatif global yang mendukung implementasi kesepakatan global terkait keanekaragaman hayati di luar yuridiksi nasional, yakni Biodiversity Beyond National Jurisdiction (BBNJ) melalui penguatan kerja sama lintas negara, lembaga internasional dan komunitas ilmiah.

Fokusnya adalah penerapan ABMTs, termasuk kawasan konservasi laut (marine protected areas/MPAs), sebagai instrumen utama perlindungan dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati di laut lepas.

Inisiatif ini melibatkan sejumlah negara pelopor, termasuk Indonesia, dalam pengembangan kawasan pengelolaan berbasis area di Samudera Atlantik, Hindia dan Pasifik.

Baca juga: BRIN bersama OceanX selidiki rangkaian gunung laut di utara Sulawesi

Kolaborasi ini diyakini dapat memperkuat kapasitas, tata kelola, serta pertukaran pengetahuan antarnegara guna memastikan pengelolaan laut lepas yang lebih efektif, inklusif dan berbasis sains.

Peluncuran Living High Seas Partnership berlangsung beriringan dengan Preparatory Commission III (PrepCom III) untuk Perjanjian BBNJ di Markas Besar PBB, New York, pada 22 Maret–2 April 2026.

Perjanjian BBNJ, yang diadopsi Juni 2023, merupakan instrumen hukum global pertama untuk konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan keanekaragaman hayati laut di luar yurisdiksi nasional.

Perjanjian ini mencakup hampir dua pertiga wilayah laut dunia, yang sebagian besar belum terlindungi. Inisiatif ini merupakan upaya dalam memenuhi target global seperti 30x30 (melindungi 30 persen laut pada 2030).



Pewarta: Shofi Ayudiana
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026