Jakarta (ANTARA) - Dietisien dari Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung Yesi Herawati S.Gz menyarankan cara memasak bahan makanan agar gizinya tetap terjaga dan nutrisi dari makanan yang dibutuhkan anak tetap terpenuhi.
Kepada ANTARA, Selasa, Yesi mengatakan pilih metode memasak yang “ramah gizi” atau yang tidak merusak zat gizi pada makanan seperti mengukus dan merebus dengan waktu sebentar agar tidak overcooking.
“Memasak sayur atau makanan terlalu lama (overcooking) bisa merusak protein dan vitamin yang sensitif terhadap panas, seperti vitamin C dan beberapa vitamin B,” kata Yesi.
Ia mengatakan dalam memasak sayur jangan terlalu lama, cukup dimasak sampai layu atau matang saja dan gunakan air rebusan untuk sup karena mengandung vitamin yang larut ke dalam air.
Baca juga: Dietisien bagikan kiat menangani dan panaskan lagi masakan bersantan sisa Lebaran
Selain itu, potong bahan makanan seperlunya, jika potongan terlalu kecil sebelum dimasak, atau mengupas kulit buah atau sayur tertentu maka semakin banyak nutrisi yang hilang.
Untuk cara penyajian, Yesi mengatakan untuk menghindari pemanasan berulang atau menggoreng makanan terlalu lama karena akan menambah lemak jenuh pada makanan.
“Menghangatkan makanan berkali-kali bisa menurunkan kandungan gizi dan juga berisiko terhadap keamanan makanan,” jelasnya.
Menyimpan makanan dengan baik di suhu yang tepat juga dapat menjaga kualitas gizi dan kesegarannya. Penyimpanan makanan disarankan tidak bercampur dengan bahan makanan lain dan tertutup dengan baik untuk menghindari kontaminasi silang bakteri.
Dalam praktek sehari-hari, kebutuhan gizi anak kerap kurang terpenuhi karena orang tua memberikan makanan instan yang tinggi gula, garam dan lemak terlalu sering. Bila terlalu sering dikonsumsi berisiko terkena penyakit degeneratif seperti hipertensi, jantung hingga diabetes.
Baca juga: Dietisien sarankan konsumsi makanan manis porsi kecil saat berbuka
Baca juga: Dietisien rekomendasikan konsumsi jus buah cukup satu gelas dalam sehari
Tidak memberikan variasi menu juga dapat membuat anak tidak mendapatkan zat gizi yang lengkap.
“Kurangnya konsumsi sayur dan buah menyebabkan asupan vitamin, mineral, dan serat tidak tercukupi. Penggunaan gula, garam, dan penyedap berlebihan bisa membuat anak lebih menyukai rasa kuat dan mengurangi minat terhadap makanan sehat alami,” katanya.
Jika kebutuhan gizi anak tidak terpenuhi sejak dini, dampaknya akan cukup serius bahkan berlangsung hingga jangka panjang. Pemenuhan gizi sejak kecil sangat penting karena memengaruhi hampir semua aspek kehidupan anak, mulai dari fisik, kecerdasan, hingga risiko gangguan metabolik di masa depan.
Pewarta: Fitra AshariUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026