Depok (ANTARA) - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB UI) Prof. Dr. Aria Farah Mita mengusulkan sebuah kerangka pendekatan yang memungkinkan keterhubungan antara angka dalam laporan keuangan dengan narasi risiko dan peluang keberlanjutan.
"Kebutuhan untuk menghubungkan laporan keuangan dengan pengungkapan keberlanjutan (sustainability disclosures) semakin mendesak seiring meningkatnya tuntutan transparansi dari investor dan pasar," kata Aria Farah Mita di Depok, Jawa Barat, Selasa.
Ia menjelaskan bahwa selama ini laporan keuangan masih menjadi sumber utama dalam pengambilan keputusan ekonomi. Sementara, perkembangan global menuntut agar informasi tersebut disajikan bersama dengan informasi keberlanjutan, seperti risiko lingkungan dan perubahan iklim.
Standar internasional seperti IFRS S1 dan IFRS S2 yang terbit pada 2023, serta regulasi nasional PSPK 1 dan PSPK 2 yang akan berlaku pada 1 Januari 2027, semakin menegaskan kebutuhan tersebut.
“Saat ini, banyak perusahaan masih berada pada tahap co-existence, yaitu laporan keuangan dan laporan keberlanjutan disajikan berdampingan, tetapi belum benar-benar terhubung. Akibatnya, pengguna laporan kesulitan mengaitkan narasi tentang risiko atau peluang keberlanjutan dengan angka-angka dalam laporan keuangan. Padahal, isu keberlanjutan sering kali memiliki dampak ekonomi nyata,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan ini, Prof. Aria mengusulkan Connectivity Response Framework (CRF), yaitu kerangka kerja yang membantu perusahaan menyusun laporan yang saling
terhubung. Kerangka ini mencakup enam elemen utama, yaitu penentuan batas (boundary), relevansi (materialitas), integrasi asumsi, pengungkapan (melalui catatan penghubung), tata kelola, serta kesiapan untuk assurance eksternal.
Melalui CRF, perusahaan dapat memastikan bahwa informasi keberlanjutan benar-benar dapat ditelusuri ke dalam angka, asumsi, dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Jika belum berdampak langsung pada angka, perusahaan tetap perlu menjelaskan alasan dan perbedaannya secara jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Pendekatan ini sejalan dengan prinsip dalam Pernyataan Standar Pengungkapan Keberlanjutan (PSPK) 1 yang menekankan pentingnya koherensi, yaitu penyajian informasi sebagai satu kesatuan yang utuh dan saling terkait. Dengan demikian, pengguna laporan dapat lebih mudah memahami hubungan antara risiko keberlanjutan dan dampak ekonominya.
Keterhubungan ini dapat memenuhi standar sekaligus meningkatkan kualitas informasi, membantu pengambilan keputusan, serta mengurangi risiko informasi.
Baca juga: Guru Besar FEB UI: Pentingnya kajian pengelolaan risiko pasar dan keuangan
Baca juga: Guru Besar UI soroti pentingnya penanganan penyakit infeksi penyebab kematian tertinggi anak
Selain itu, CRF diharapkan menjadi jembatan antara aturan yang ada dengan praktik di lapangan, serta membuka peluang penelitian lebih lanjut terkait kualitas pelaporan di pasar berkembang.
Pewarta: Feru LantaraEditor : Heri Sutarman
COPYRIGHT © ANTARA 2026