Jakarta (ANTARA) - "Dunia ini ada dua; dunia citra dan dunia realitas."

Kalimat ini tercetus dari Juwono Sudarsono yang baru saja wafat pada 28 Maret 2026, saat diwawancarai ANTARA sekitar akhir tahun 2000.

Wawancara itu sendiri dilakukan untuk keperluan membuat sebuah buku rampai pandangan para tokoh tentang politik nasional saat itu.

"Wah banyak duit dong?", kata Juwono dalam nada bercanda kepada ANTARA, setelah mengetahui tujuan ANTARA mewawancarai beliau, yang saat itu dilakukan di kafetaria Hotel Hilton di daerah Senayan, Jakarta.

ANTARA hanya bisa nyengir mendengar candaannya, tak bisa berkata apa-apa.

Di sela wawancara itu, ANTARA menanyainya tentang jasa konsultasi pertahanan, yang sebenarnya hanya untuk mencairkan suasana dan membangun keakraban dengannya.

Dengan berlagak sok tahu, berbekal analisis pakar dan referensi yang ANTARA dapatkan dari berbagai sumber, ANTARA menanyai Juwono tentang bisnis konsultasi pertahanan.

Doktor Ilmu Hubungan Internasional dan sudah dikenal luas sebagai pakar pertahanan jauh sebelum menjadi Menteri Pertahanan itu, menyimak dengan serius apa yang ANTARA omongkan.

Tetapi dengan rendah hati beliau bilang, "wah saya baru tahu itu."

Padahal ANTARA yakin dia telah tahu semua yang ANTARA omongkan, karena apa yang ANTARA sampaikan adalah pengetahuan common sense belaka.

ANTARA hanya bisa menyimpulkan, bahwa inilah salah satu bukti mengenai kerendahan hati seorang intelektual yang memang sudah dikenal luas berilmu padi itu.

Tapi itu pula yang membuat ANTARA bertambah kagum kepadanya.

Juwono sungguh menerapkan ilmu padi sampai ke tulang sumsum, bahwa semakin dia tahu, semakin rendah hati dia, dan semakin tak ingin menganggap remeh siapa pun lawan bicaranya.

Tapi "perkenalan" ANTARA dengan Juwono sudah terjadi jauh sebelum menjadi wartawan, saat masih kuliah di jurusan sama dengan bidang yang menjadi kepakarannya, yakni Ilmu Hubungan Internasional.

Tentu saja "perkenalan" itu didapat dari pandangan-pandangan Juwono yang kerap dimuat media massa, dan sejumlah buku, termasuk "kata pengantarnya" untuk buku "Politik Antarabangsa" karangan Hans J. Morgenthau, yang membuat namanya begitu familiar di kampus.

"Politik Antarabangsa" atau aslinya "Politics Among Nations, the Struggle for Power and Peace" adalah satu dari sekian banyak buku klasik ilmu politik dan Hubungan Internasional. Salah satu buku klasik lainnya yang terkenal adalah "Politik Luar Negeri Indonesia" karya Michael Leifer.

Michael Leifer adalah pakar Hubungan Internasional dari Inggris, dan guru besar London School of Economics (LSE).

LSE yang merupakan salah satu kampus terkemuka di dunia adalah tempat Juwono mendapatkan gelar doktor-nya, tepatnya PhD.

Mengutip blog juwonsudarsono.net, Juwono yang dilahirkan pada 5 Maret 1942 di Ciamis, ketika Jawa Barat dan Indonesia masih disebut Hindia Belanda, menyelesaikan BA dan MS di Universitas Indonesia.

Dia juga berstudi di Institute of Social Studies di Den Haag, Belanda, dan mendapatkan gelar MA dari University of California di Berkeley, Amerika Serikat, yang adalah kampusnya para teknorat Indonesia era Orde Baru.

Pandangan-pandangan Juwono digandrungi oleh banyak kalangan, termasuk mahasiswa politik dan Hubungan Internasional.

Beliau sendiri berasal dari kampus yang juga melahirkan pemikir-pemikir besar dalam ilmu politik dan ilmu sosial, seperti Miriam Budiardjo, Arbi Sanit, dan Selo Sumardjan.

Pandangan-pandangan mereka dipelajari luas oleh mahasiswa sosial dan politik saat itu.

Perspektifnya tentang politik internasional dan pertahanan, sama menariknya dengan pandangan-pandangan sejawatnya di kampus-kampus terkenal lain, seperti Mohtar Mas'oed dan Amin Rais di Universitas Gadjah Mada.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika para pemimpin negeri ini tertarik kepada pemikiran dan kompetensi Juwono.

Presiden KH Abdurrachman "Gus Dur" Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bahkan mendaulatnya sebagai Menteri Pertahanan, yang sebelumnya tabu dijabat sipil.

Tapi keterlibatannya dalam pemerintahan tak dimulai dari era Gus Dur, melainkan sudah diretasnya sejak Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto.

Diawali dengan jabatan Wakil Gubernur Lemhanas pada 1995-1998, Juwono menjadi Menteri Negara Lingkungan Hidup pada 1998.

Setahun kemudian, pada awal masa reformasi dalam kabinet Presiden B.J. Habibie, Juwono menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada 1998-1999.

Setelah itu menjadi Menteri Pertahanan pada era pemerintahan Presiden Gus Dur pada 1999-2000.

Dengan menjadi Menteri Pertahanan, Juwono adalah salah satu simbol era baru di Indonesia, yang mereformasi tatanan Orde Baru.

Dia luas dianggap sebagai arsitek di balik reformasi pertahanan Indonesia dan salah satu simbol sekaligus pelaku untuk supremasi sipil dalam berketatanegaraan di Indonesia.

Absen sekitar tiga tahun dari kabinet, Juwono menjadi Duta Besar RI di Inggris semasa Presiden Megawati Soekarnoputri pada 2003-2004.

Tapi kemudian direkrut kembali sebagai Menteri Pertahanan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari 2004 sampai 2009.

Namanya sangat melekat dengan intelektualisme. Sementara kepakarannya dalam bidang pertahanan dan politik internasional sulit membuat dunia kampus menjauh darinya.

Sebaliknya, akademisi yang pernah menjadi guru besar tamu untuk School of Public and International Affairs di Universitas Columbia di New York City dan guru besar Ilmu Hubungan Internasional pertama di Universitas Indonesia itu, sudah inheren dengan intelektualisme.

Mengutip lagi blog juwonsudarsono.net, selain tertarik pada masalah pertahanan, Juwono juga sangat meyakini apa yang disebutnya dengan "pertahanan non militer" sebagai salah satu proses konstan untuk pembangunan dan karakter bangsa.

Namun, setelah berjuang selama empat tahun melawan stroke, pemikir cemerlang nan rendah hati itu akhirnya dipanggil untuk selamanya oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Selamat jalan profesor. Terima kasih atas ilmu dan kerendahhatian yang engkau teladankan kepada bangsa ini. Sumbangsih dan warisan pemikiranmu adalah nyata nan abadi, bukan citra.



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026