Agam (ANTARA) - Takbir Idul Fitri berkumandang tanpa gaung yang luas, hanya mengalun pelan dari pengeras suara berdaya kecil.

Dari kejauhan, warga tampak seolah muncul dari balik timbunan bebatuan. Pakaian bernuansa putih menjadi satu-satunya warna yang menonjol di tengah puing-puing yang kusam. Mereka melangkah perlahan dan hati-hati, menapaki jalur yang tak lagi rata menuju lapangan tempat salat Idul Fitri akan dilaksanakan.

Seorang perempuan berusia akhir 40-an terlihat berjalan sedikit tergesa, namun langkahnya tetap terjaga di antara batu-batu yang berserakan. Di belakangnya, seorang anak perempuan dan seorang perempuan lanjut usia mengikuti dengan langkah lebih pelan, menjaga keseimbangan di jalur yang tak pasti.

Tepat di belakang mereka, sebuah kubah berwarna hijau berdiri mencolok, kontras dengan dominasi abu-abu batu di sekitarnya. Kubah itu menjadi satu-satunya bagian masjid yang masih utuh. Dinding dan bagian lain bangunan telah habis dihantam bencana galodo atau banjir bandang yang menerjang kawasan tersebut pada akhir November lalu.

Di antara hamparan batu itu, tak ada lagi rumah yang berdiri utuh. Fondasi yang miring menjadi penanda terakhir, sementara dindingnya nyaris tak tersisa. Tertutup batu-batu dari berbagai ukuran, bangunan-bangunan itu tampak kerdil, seakan perlahan tenggelam ke dalam tanah.

Langkah-langkah mereka mungkin kecil, namun tetap pasti, menuju ruang terbuka yang hari itu menjadi tempat salat Idul Fitri.

Semakin mendekati lapangan itu, nampak sebuah rumah bergonjong —atap khas Minangkabau— masih berdiri utuh, tegak seperti penanda sunyi bahwa kawasan ini luput dari terjangan terparah.

Sedikit menurun dari sana, gema takbir mulai terdengar berkumandang, meski tak sekeras tahun-tahun sebelumnya. Suaranya seperti tertahan, tak sepenuhnya lepas, seakan menyesuaikan dengan suasana yang masih diselimuti duka.

Tanah yang dahulu milik warga kini sengaja ditimbun batu-batu sisa longsor; reruntuhan yang disusun ulang menjadi harapan baru, tempat sebuah masjid akan segera berdiri. Di atasnya, sekitar 250 warga Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, duduk bersaf.

Di dekat saf bagian depan, hanya terdapat dua pengeras suara yang dibawa dari rumah warga.

Di bagian belakang, sebuah ekskavator berwarna oranye terdiam, namun kehadirannya berbicara banyak. Ia menjadi saksi sekaligus isyarat bahwa lapangan tempat salat itu baru saja dipacu pembangunannya.

Ketika salat dimulai, suasana berubah hening. Umat Muslim larut dalam bacaan imam yang masih terdengar jelas meski hanya mengandalkan mikrofon berdiri, bukan yang dipasangkan pada baju.

Suasana berbeda terasa saat khatib menyampaikan khutbah Idul fitri. Seiring sinar matahari yang kian menguat, terdengar isak tangis dari saf bagian depan perempuan; sebagian saling berpelukan.

Di dalam barisan itu, ada yang kehilangan rumah, ada yang kehilangan pekerjaan, bahkan ada yang kehilangan anggota keluarga.

Usai salat, tradisi saling bermaafan tetap dijalankan. Warga saling mendekat, berjabat tangan, dan berpelukan. Di antara mereka, ada yang larut dalam percakapan ringan diselingi gelak tawa, sementara yang lain berusaha melukiskan senyum di wajahnya meski mata masih menyimpan jejak basah yang belum sepenuhnya reda.

Sebuah dilema pun terasa: antara menyambut Lebaran yang seharusnya menjadi hari kemenangan setelah sebulan berpuasa di bulan Ramadhan, dan rasa duka yang seolah masih menahan mereka untuk benar-benar melupakan kehilangan.

Di sana, terasa tarik-menarik pergolakan batin, antara merayakan Lebaran sebagai hari kemenangan dan duka yang masih menggantung, enggan dilepaskan sepenuhnya.

Tradisi Idul Fitri yang dijaga

Di tengah proses pemulihan bencana, tradisi tidak dibiarkan padam. Salah satunya adalah pawai obor pada malam takbiran.

Inisiatif lahir dari tingkat jorong. Kepala jorong menggandeng wilayah tetangga, menghidupkan kembali kebersamaan yang sempat terurai. Anak-anak hingga orang dewasa larut dalam barisan, melangkah perlahan. Cahaya obor berpadu dengan gema takbir, mengalir hingga ke tepian Danau Maninjau.

Lebih dari sekadar arak-arakan, pawai itu menjadi ruang pertemuan, menghimpun kembali warga yang sebelumnya tercerai oleh bencana dan duka.

Pawai obor bukan sekadar tradisi tahunan, tetapi menjelma sebagai bagian dari pemulihan mental, terutama bagi anak-anak yang terdampak bencana. Cahaya obor yang berpendar di malam hari seolah menjadi simbol harapan bahwa di tengah gelapnya musibah, masih ada terang yang dijaga bersama.

Memasuki pagi Idul Fitri, suasana perlahan berubah.

Seiring sinar mentari yang kian menghangat, semangat menjaga silaturahim kian mengerat. Setelah melaksanakan shalat Id, warga saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan. Momen itu menjadi ruang untuk kembali menyatukan masyarakat yang sempat terpencar, sekaligus mengobati luka batin akibat musibah.

Bagi sebagian warga, Lebaran kali ini datang secara berbeda. Rumah yang rusak, rumah yang hanya menyisakan fondasi, membuat Hari Kemenangan umat Muslim dijalani apa adanya. Tanpa ada perayaan mewah, tanpa ada kue khas Lebaran yang dipersiapkan secara sengaja, tanpa kemeriahan. Hanya kesederhanaan yang menyertai.

“Kalau sekarang kita maklumi, ada pindah dari kampung di sini. Jadi, terasa berbeda dari suasana tahun dulu, kemeriahan dalam keadaan seperti ini aja, ke rumah sanak saudara yang masih terjangkau di sekitar sini aja,” kata Alimin yang membiarkan pintu rumahnya terbuka, pertanda siap menerima tamu.

Di Nagari Maninjau, yang bertetangga dengan Nagari Sungai Batang, upaya menjalin silaturahim tetap terjaga. Di tengah keterbatasan dan sisa material banjir yang belum sepenuhnya tertangani, warga tetap berupaya saling mengunjungi.

Di antara mereka, ada yang berjalan kaki melewati jalur yang dipenuhi bebatuan di sisi kiri dan kanannya. Jalan pintas yang diharapkan bisa mempercepat langkah menuju rumah saudara.

Kehadiran perantau menjadi energi tersendiri. Kepulangan mereka bukan hanya melepas rindu, tetapi juga menjadi tanda bahwa kampung halaman perlahan bangkit.

Di sudut lain, anak-anak tetap menjalankan tradisi manambang. Usai salat Id, mereka berkeliling dari rumah ke rumah, mencicipi kue Lebaran dan berharap mendapatkan uang hari raya. Tawa mereka, seolah tak terusik oleh jejak bencana yang masih membekas.

 

Lebaran yang menyusup gelora duka

Di tengah jejak banjir bandang yang belum sepenuhnya pulih, Idul Fitri tidak lagi sekedar perayaan, melainkan titik tolak untuk bangkit dari keterpurukan.

Banyak di antara mereka yang kehilangan hampir segalanya: rumah, harta benda, mata pencarian, bahkan anggota keluarga. Duka itu masih terasa nyata. Namun, suasana Lebaran memberi ruang untuk menata kembali hati yang remuk dan saling menguatkan.

Dalam khutbah Idul Fitri, khatib mengajak para jamaah untuk tidak larut dalam kesedihan. Ia mengingatkan bahwa setiap musibah membawa hikmah, dan bahwa harapan selalu menyertai ujian.

Tanpa mereka sadari, air mata mereka mengalir sering seruan yang menggema, menyusup ke relung batin warga yang tengah berjuang menerima kenyataan.

Nur Aini, warga Jorong Labuah, menaruh harapan agar Lebaran menjadi awal untuk membangkitkan semangat, menjauh dari pemikiran yang kacau, menata pikiran untuk kembali bangkit.

“Mudah-mudahan di awal lebaran ini, kita membangkitkan semangat kita, agar kita tidak memikirkan yang kacau-balau itu … Mudah-mudahan kami disini warga Jorong Labuah dengan keadaan begini, Allah memberi cobaan kepada kita, supaya kita bangkit dan berhasil,” ucap Nur dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Anita Puspita Sari, Lebaran membuatnya kembali merasakan beban yang ditanggung para tetangganya. Meski rumahnya tak terdampak langsung, rasa cemas jika hujan datang di malam hari, masih menghantuinya.

Di satu sisi, ia ingin merayakan suka cita Idul Fitri. Di sisi lain, hati nuraninya melayang, seakan terhubung dengan para penyintas bencana. Memetik pelajaran, ia menilai Lebaran menjadi saat yang tepat untuk kembali saling memaafkan, kembali saling menjaga kekompakan, kembali memperbaiki diri.

“Kalau senang ya senang, tapi melihat warga yang kena itu, memikirkan bagaimana perasaan warga di Lebaran ini. Mungkin di balik musibah ada hikmah supaya kita saling memaafkan. Kita sendiri, sebelum bencana ada yang tidak saling menyapa dengan tetangga,” katanya sembari mengusap air mata yang telah berusaha ia tahan.

Lebaran di tanah yang pernah dilanda banjir bandang dan longsor ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu lahir dari kelimpahan, melainkan dari kemampuan untuk bertahan dan saling menguatkan.

Di antara luka yang belum sepenuhnya sembuh, warga menemukan kekuatan baru.

Seperti takbir yang menggema di pagi hari itu, harapan terus bergaung, menguatkan langkah mereka untuk bangkit dan melanjutkan hidup, tanpa alasan untuk goyah, sambil tetap percaya bahwa hari esok masih menyimpan harapan.



Pewarta: Kuntum Khaira Riswan
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026