Erni-Sukarno-Bintang-Lapangan-Tembak-Yang-Tak-Pernah-Patah-Semangat
Bogor (ANTARA) - Erni Soekarno Fudin tidak ingat berapa banyak medali yang telah diperolehnya selama menjalani karir olahraga sebagai atlet menembak sejak tahun 1970-an.

Ketika penulis menemuinya di rumah milik adiknya di Taman Cimanggu, Bogor, Erni mengambil sebuah kotak kayu yang cukup berat karena isinya penuh dengan ratusan medali hasil prestasi yang telah diukirnya mulai dari tingkat daerah, nasional, hingga internasional.

"Ini medali emas waktu saya dengan Lely sampurno dan Selvyana Hosen meraih medali emas di SEA Games Bangkok tahun 1985" kata Erni sambil memperlihatkan medali yang tampak sudah kusam tersebut.

Ia pun mengobrak-abrik tumpukan medali lainnya dalam kotak tersebut sambil mengingat-ingat event yang telah dijuarainya.

Cetakan tulisan dalam logam medali itu membantu menuntun ingatannya pada pertandingan atau kejuaraan yang pernah dia ikuti.

Di antara koleksi medalinya adalah yang didapat ketika menjadi juara pada pada SEA Games Kuala Lumpur 1977, Jakarta 1979, Manila 1991, Singapura 1983, Bangkok 1985m Jakarta 1987, Kuala Lumpur 1989, Filipina 1991 dan terakhir di Chiang Mai 1995.

Itu belum termasuk pada sejumlah single event dan juga Pekan Olahraga Nasional yang sempat dia ikuti hingga PON di Palembang tahun 2004 lalu. Ketika itu ia menyumbang emas untuk kontingen DKI di nomor sport pistol.

Medali koleksinya di kotak kayu itu bercampur baur antara emas, perak, atau perunggu. Ada medali perorangan, ada pula medali beregu.

Tidak ada etalase atau pun lemari khusus untuk memajang koleksi piala-piala atau medalinya, karena sampai saat ini ia belum punya rumah sendiri, yang diharapkan bisa menjadi tempat berteduh serta tempat bagi koleksi hasil prestasinya sebagai atlet.

"Saya sementara ini tinggal di rumah adik saya," kata wanita kelahiran Bandung 24 November 1958 itu.

Selama sebagai atlet dan pelatih, ia banyak tinggal bersama teman-temannya di  pelatnas atau pelatda.

Wanita yang masih berstatus single tersebut di usianya yang memasuki 53 tahun itu mengaku bahwa semangatnya untuk berkiprah mengharumkan nama bangsa, serta kecintaan terhadap olahraga menembak, membuatnya ia tetap setiap pada karir atletnya.

Bahkan kesibukannya latihan dan mengikuti berbagai pertandingan, membuat ia tidak sempat melanjutkan kulias selepas SMA.

Erni menekuni olahraga menembak karena tertarik untuk mengikuti jejak ayahnya, Sukarno Fudin (almarhum) yang merupakan anggota TNI AD dan juga atlet menembak nasional.

"Waktu di rumah dinas di Bandung, di samping rumah ada tempat latihan menembak, saya sering ikut berlatih bersama ayah," kata anak kedua dari delapan bersaudara pasangan Sukarno Fudin dan Siti Habibah itu.

Sukarno Fudin meninggal dunia pada tahun 1984, sementara rumah dinasnya di Bandung hanya bisa ditempatkan keluarganya hingga tahun 1989.

Erni sendiri tetap mengikuti jejak ayahnya dalam dalam karir menembak. Ia juga banyak dibantu oleh Widati, pengurus Perbakin Jawa Timur, yang juga sebagai ibu angkatnya sehingga bisa tetap berkiprah di olah raga ini.

Erny sendiri menyadari olahraga menembak tidak seperti olahraga lainnya seperti bulutangkis, sepakbola, golf atau boling yang bisa membuat atletnya kaya raya melalui jalur profesional.

Tapi kecintaannya terhadap olahraga menembak tidak pernah menyurutkan semangatnya. Di tengah keterbatasan dana, ia tetap berlatih meskipun lebih sering melalui latihan kering atau latihan tanpa peluru.

"Sekarang harga peluru makin mahal," katanya. Apalagi saat ini Erny mengaku belum punya pekerjaan tetap.

Waktu dulu memang ada bonus jika jadi juara, tapi tidak sebesar atlet-atlet sekarang. "Bonusnya pun kemudian dibelikan peralatan menembak lagi," katanya.

Ia sendiri masih ingin bisa bertanding lagi, termasuk di tingkat internasional, walau diakui bahwa hal itu perlu perjuangan keras.
 
 


:

COPYRIGHT © ANTARA 2026