Banjarmasin (ANTARA) - Pemerintah Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan meningkatkan pengawasan penyakit campak untuk merespon cukup tinggi kasus campak di negeri ini tahun 2026.
Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Banjarmasin, Emma Arisnawati di Banjarmasin, Rabu, menyampaikan, berdasarkan data nasional terdeteksi 8.224 kasus campak di negeri ini.
"Ini berdasarkan data minggu ke-7 tahun 2026 tentang kasus campak di seluruh Indonesia," ujarnya.
Oleh karena itu, ujar dia, Dinkes Banjarmasin meningkatkan pengawasan dengan deteksi ke lapangan utamanya bagi masyarakat yang rentan.
Diungkapkan dia, berdasarkan pengawasan di lapangan, sempat terdeteksi sebanyak sepuluh orang suspek campak yang terdiri dari tujuh pria dan tiga wanita dengan rentang usia 0-10 tahun.
Namun, lanjut dia, dari hasil sampel diambil dari mereka dan diperiksa di Laboratorium Kesehatan Masyarakat Kota Banjarbaru menunjukkan semuanya negatif.
"Jadi belum ada di Banjarmasin di temuan kasus penyakit campak. Namun demikian, upaya mitigasi terus dilakukan," kata Emma.
Mitigasi yang dilakukan pihaknya dengan strategi peningkatan cakupan imunisasi campak di puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya, untuk memberikan layanan imunisasi ke masyarakat.
Pihaknya pun terus melaksanakan komunikasi informasi edukasi (KIE) di tengah masyarakat akan pentingnya imunisasi untuk mencegah wabah penyakit menular seperti penyakit campak ini.
Melalui pendekatan dengan melibatkan lintas sektor, termasuk tokoh masyarakat dan organisasi agama untuk mengkampanyekan pentingnya imunisasi campak tersebut.
"Kita juga segera mengeluarkan surat edaran (SE) terkait kewaspadaan wabah campak ini," ujarnya.
Sebagaimana diketahui, ungkap Emma, penyakit campak dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti pneumonia, diare berat, radang otak (ensefalitis) dan Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE), penyakit saraf fatal yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi campak masa kanak-kanak.
Jika sudah terinfeksi campak ada indikasi menderita penyakit SSPE yang mana belum ada obat untuk menyembuhkan.
"Maka dari itu, diharapkan masyarakat bisa paham bahayanya campak ini, supaya anaknya bisa diimunisasi," katanya.
Baca juga: Wamenkes: Anak terkena campak sebaiknya diisolasi selama Lebaran
Baca juga: Dinkes Depok beri penjelasan pencegahan penyakit campak
Pewarta: SukarliEditor : Erwan Muhadam
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.