Jakarta (ANTARA) - Di tengah dunia yang semakin terhubung secara digital, muncul paradoks yang kian nyata: manusia semakin terkoneksi, tetapi tidak selalu merasa terhubung.
Di sinilah Jejak Baik kembali menghadirkan sebuah gerakan sosial yang tidak sekadar berbagi materi, tetapi menghidupkan kembali makna pertemuan, percakapan, dan kehadiran manusia yang utuh melalui kegiatan “Buka Bersama Jejak Baik 2026.”
Program ini diselenggarakan bersama anak-anak di Asrama Asuh Dompet Yatim dan Dhuafa Pondok Gede.
Kegiatan diawali dengan sesi perkenalan dan ice breaking yang mencairkan suasana, dilanjutkan dengan dialog santai, permainan interaktif, hingga momen buka puasa bersama. Namun, yang paling utama bukanlah rangkaian acaranya, melainkan ruang perjumpaan yang tercipta, di mana anak-anak merasa dilihat, didengar, dan dihargai.
Hadir dalam kegiatan ini Putie Hikari selaku Founder Jejak Baik, bersama tim relawan yang terdiri dari Annisa Dyandra Maheswari Sadono, Ahmad Fikri Safa, Alisyach Ananda Anaya, Stevenson Tri Oetama, dan relawan lainnya yang berkontribusi sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan.
Kesepian: Krisis Sosial Baru di Era Digital
“Kegiatan ini lahir dari kesadaran akan fenomena global yang semakin mengkhawatirkan. Sejumlah laporan internasional menunjukkan bahwa kesepian (loneliness) kini menjadi salah satu isu kesehatan sosial yang meningkat, terutama pada generasi muda. Laporan terbaru yang dirangkum dalam kajian pendidikan global menunjukkan bahwa remaja saat ini menjadi kelompok yang paling rentan mengalami kesepian, meskipun hidup di era media sosial yang serba terkoneksi,” ujar Putie Hikari, Founder Jejak Baik.
Penelitian dalam bidang psikologi dan pendidikan menunjukkan bahwa interaksi langsung (face-to-face interaction) memiliki peran signifikan dalam meningkatkan empati, kesejahteraan psikologis, dan rasa keterhubungan sosial. Studi-studi tersebut menegaskan bahwa pengalaman berbagi secara langsung, seperti duduk bersama, berbincang, dan tertawa, mampu memperkuat social bonding yang tidak tergantikan oleh komunikasi digital.
“Di era digital, yang paling mahal bukan lagi informasi, tetapi perhatian dan kehadiran. Kita bisa terhubung dengan banyak orang, tetapi belum tentu merasa dekat. Karena itu, Jejak Baik tidak hanya ingin memberi, tetapi ingin hadir, mendengarkan, berdialog, dan berjalan bersama mereka yang membutuhkan.” Seru Putie, Pelajar SMA Binus Bekasi.
Melalui “Buka Bersama Jejak Baik 2026,” Jejak Baik menegaskan bahwa aksi sosial bukan sekadar distribusi bantuan, melainkan proses membangun hubungan yang setara dan bermakna.
Bagi anak-anak panti asuhan, kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar momen berbuka puasa. Ini adalah ruang di mana mereka merasakan kehangatan, perhatian, dan pengakuan sebagai individu yang berharga. Sementara bagi para relawan, kegiatan ini menjadi ruang belajar tentang empati, kepedulian, dan makna kehadiran dalam kehidupan sosial.
Jejak Baik berharap kegiatan ini dapat terus berlanjut sebagai gerakan yang menumbuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kuat secara sosial dan emosional.
Pewarta: AntaraEditor : Feru Lantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.