Jakarta (ANTARA) - Bagi Santri penghafal Al-Qur’an, Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memperkuat hafalan, di Rumah Quran Jannatul Firdaus, Tangerang, dan Pondok Pesantren Darul Futhonah, Pandeglang, kebahagiaan itu hadir melalui penyaluran zakat fitrah dari para donatur Laznas Baitul Maal Hidayatullah (BMH) Banten.
Beras-beras yang datang tidak sekadar memenuhi kebutuhan dapur pesantren yang menjadi penopang utama aktivitas para santri yang setiap hari menghafal dan belajar Al-Qur’an.
Di antara para santri, kebahagiaan itu terlihat begitu jujur dan sederhana.
Fatimah Putri Syafaat (9 tahun), yang telah menghafal 4 juz, tersenyum saat melihat beras yang tersusun di pondoknya.
“Senang di pondok banyak beras,” ucapnya singkat, namun penuh makna.
Bagi anak seusianya, kebahagiaan itu tidak rumit. Ketersediaan makanan membuatnya bisa fokus menghafal tanpa khawatir akan kebutuhan sehari-hari.
Hal yang sama dirasakan Kanzia Azmi Zelmira (9 tahun), penghafal 2 juz. Ia menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para donatur.
“Terima kasih ayah bunda donatur BMH Banten yang sudah peduli pada kami,” tuturnya.
Dalam kehidupan pesantren, zakat fitrah seperti ini memiliki dampak yang sangat nyata. Ketersediaan beras membuat kebutuhan makan para santri lebih terjamin, sehingga mereka dapat menjalani aktivitas belajar dengan tenang.
Para pengasuh pun tidak lagi terbebani oleh kekhawatiran soal logistik harian, dan dapat lebih fokus membimbing hafalan serta pembinaan karakter santri.
Pimpinan Pondok Pesantren Darul Futhonah, Ustadz Ahmad Tobir Rifa’i, menyampaikan rasa syukur atas penyaluran zakat fitrah tersebut.
“Kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Semoga seluruh donatur Laznas BMH Banten diterima amal ibadahnya dan mendapatkan ampunan dari Allah,” ujarnya.
Sementara itu, Kadiv Prodaya BMH Banten, Roni Hayani, memastikan bahwa zakat fitrah dari para donatur disalurkan kepada pihak yang tepat, termasuk santri tahfidz binaan di berbagai wilayah Banten.
Melalui program ini, zakat fitrah tidak hanya menjadi kewajiban ibadah yang ditunaikan, tetapi juga menjadi energi bagi lahirnya generasi Qur’ani.
Di ruang-ruang sederhana pesantren itu, beras yang tersimpan di dapur memiliki makna yang lebih dalam. Ia menjaga semangat para santri untuk terus menghafal, belajar, dan tumbuh menjadi generasi yang membawa cahaya Al-Qur’an bagi masa depan umat.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.