Jakarta (ANTARA) - Bulan Suci Ramadhan 1447 Hijriah/2026 sudah memasuki hari ke-26 dan panggilan untuk pulang ke kampung halaman, mungkin sudah didamba sebagian perantau, termasuk di Ibu Kota.
Apalagi libur sekolah anak sudah tiba dan menunggu giliran untuk para pegawai, termasuk aparatur sipil negara (ASN), karyawan BUMN, dan pekerja swasta.
Pun halnya dengan Yatin (63) dan Irfan (26), pramuantar atau porter di Stasiun Pasar Senen, Jakarta Pusat. Dua insan yang sudah seperti bapak dan anak itu juga bersiap pulang dan karenanya masih giat menjemput rupiah untuk dibawa ke kampung.
Keduanya perantau dari Jawa Tengah. Yatin sudah sejak tahun 1982 merantau ke Jakarta dan berlabuh di Stasiun Pasar Senen, meninggalkan Brebes. Sementara Irfan, dari Kebumen, baru setahun terakhir mencari peruntungan di Jakarta.
Yatin dan Irfan ke Jakarta sama-sama diajak kerabatnya. Jika Yatin mengaku sudah puas menjadi porter, berbeda halnya dengan Irfan yang bahkan belum punya bayangan mau jadi apa tahun depan.
Bicara penghasilan per hari, keduanya sama-sama sepakat menjawab "tak menentu". Hanya saja, setidaknya dalam sehari kantong mereka tak pernah kosong. Selain itu, bagi mereka sistem kerja juga manusiawi.
Porter di Stasiun Pasar Senen totalnya berjumlah 190 orang, termasuk Yatin dan Irfan. Sistem kerja para pramuantar dibagi dua shift per hari, yakni siang dan malam. Saat shift pagi, porter bekerja sejak pukul 07.00-19.00 WIB.
Tugas mereka sebenarnya membawa barang, semisal tas, koper atau lainnya, milik penumpang ke dalam kereta. Kenyataannya, mereka terkadang juga menjadi penunjuk arah, pembaca tiket, pengingat waktu keberangkatan, dan menjadi teman mengobrol penumpang yang menunggu berangkat.
Jasa mereka biasanya dibayar Rp38 ribu untuk maksimal tiga bawaan. Bila bawaan lebih banyak, umumnya penumpang akan memberi uang lebih.
Tidak sedikit penumpang yang membayar jasa mereka Rp15 ribu, Rp20 ribu, atau tak merogoh kocek sama sekali, hingga, bahkan tak mengucap kata "terima kasih".
Mengapa bisa begitu? Bukankah sudah ada negosiasi harga di awal? Ternyata tidak. Porter di awal hanya bertanya pada penumpang, "Bu/Pak/Mas/Mbak, mau pakai jasa porter?" Selesai.
Karena tak ada kesepakatan di awal inilah, sebagian penumpang merasa tak perlu membayar sepeserpun. Irfan mengalaminya tak sekali, dua kali.
Apa mau dikata, Irfan mengaku tak bisa menegur. Kendati sudah menunggu dan rupiah tak kunjung didapat, akhirnya dia memilih mengikhlaskan.
"Mesti ada orang yang tega. Pura-pura tidak tahu. Sudah bawa banyak barang, ya terima kasih saja," kata Irfan.
Kisah sendu itu ada harapan berubah menjadi sebaliknya di pekan-pekan menjelang Lebaran. Penumpang kereta sudah memadati stasiun untuk berangkat menuju tujuan masing-masing di Pulau Jawa.
PT KAI Daop 1 Jakarta mencatat pada Senin (16/3) siang saja, sebanyak 23.259 penumpang kereta api yang berangkat dari Stasiun Pasar Senen, sementara penumpang yang datang sekitar 9.405 orang.
Pada hari sebelumnya, jumlah penumpang yang berangkat sebanyak 20.438 orang dan 18.600 orang pada Sabtu (14/3). Sementara yang tiba yakni 9.886 pada 15 Maret dan 10.413 pada 14 Maret.
Jumlah tersebut rupanya tak berbanding lurus dengan penghasilan yang didapat sebagian pramuantar. Irfan dan Yatin mengantongi sekitar Rp130 ribu per hari atau tak lebih dari Rp300 ribu dalam dua hari.
"Penumpang banyak, tapi tidak semua mau dibawakan barangnya," kata Yatin.
Pewarta: Lia Wanadriani SantosaUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026