Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, Perang Iran-Amerika Serikat (AS) yang didukung Israel menjadi momentum untuk pengembangan energi baru terbarukan atau EBT guna menggantikan energi fosil.
"Pengembangan energi baru terbarukan guna menggantikan energi fosil. Energi fosil harus sudah mulai digantikan oleh EBT," ujarnya saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Selasa.
Dia menambahkan, pengembangan mobil listrik hingga pembangkit energi industri seharusnya sudah mulai dipikirkan dari EBT.
"Teknologi panel surya seharusnya bisa mempunyai peran penting dalam suplai energi ke industri dan juga dari pembangkit listrik. Sehingga mobil listrik juga digerakkan oleh sumber energi yang bersih," katanya.
Sebagai informasi, Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mendorong penguatan energi dan ekonomi nasional imbas eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah (Timteng) yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.
Ibas mengatakan situasi tersebut berpotensi memperluas instabilitas geopolitik global serta memberikan tekanan serius terhadap perekonomian dunia, termasuk Indonesia.
Menurut dia, konflik di kawasan strategis penghasil energi dunia ini tidak hanya berdampak pada negara yang terlibat langsung, tetapi juga membawa konsekuensi luas terhadap stabilitas energi, jalur perdagangan internasional, inflasi global, dan keamanan kawasan.
Baca juga: Ekonom soroti dampak penurunan tarif dagang AS-China
Baca juga: CELIOS: Pentingnya literasi keuangan guna pahami Hak dan Kewajiban Peminjam
Secara spesifik, Ibas menyoroti Selat Hormuz yang merupakan jalur perdagangan energi vital di dunia. Mengingat Iran berbatasan langsung dengan jalur sempit ini, eskalasi konflik berisiko memicu hambatan distribusi atau bahkan penutupan jalur.
Selat Hormuz, imbuh dia, adalah urat nadi bagi 20 hingga 30 persen konsumsi minyak dunia setiap harinya, sekaligus jalur utama bagi gas alam cair (LNG) dari Qatar. Jika stabilitas di selat tersebut terganggu, dunia akan menghadapi kejutan pasokan.
Pewarta: Suharsana Aji Sasra J CEditor : Heri Sutarman
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.