Jakarta (ANTARA) - Pengamat pasar modal Elandry Pratama mengatakan konflik Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada dasarnya memicu tekanan jangka pendek terhadap pasar saham global, termasuk Indonesia, karena meningkatnya ketidakpastian geopolitik.

Ia mengatakan, dampak yang paling cepat terlihat yaitu perubahan sentimen dan risk appetite (selera risiko) para investor di tingkat global.

"Ketika tensi meningkat, pelaku pasar cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko seperti saham emerging market, sehingga IHSG terkoreksi dan volatilitas meningkat," ujar Elandry saat dihubungi oleh Antara di Jakarta, Senin.

Elandry menilai saat ini dampaknya masih dominan bersifat sementara dan berbasis sentimen.

Baca juga: Pengamat: Investor alihkan dana ke "safe haven" imbas konflik Iran-AS

Namun demikian, lanjutnya, apabila eskalasi berlanjut dan mulai mengganggu distribusi energi global, khususnya di jalur strategis seperti Selat Hormuz, maka dampaknya berpotensi berkembang menjadi jangka menengah.

"Kenaikan harga minyak yang bertahan lebih lama dapat memicu tekanan inflasi dan mempengaruhi kebijakan moneter, yang pada akhirnya berdampak pada arus modal dan stabilitas pasar," ujar Elandry.

Dalam kesempatan ini, Ia mengatakan, saat ini pergeseran dana investor terlihat mengarah ke aset safe haven seperti emas, dolar AS, dan obligasi pemerintah.

Di pasar saham, Ia menyebut pada fase awal biasanya investor lebih dulu masuk ke saham berbasis emas dan energi (oil & gas), yang diuntungkan dari kenaikan harga komoditas.

"Selanjutnya, apabila volatilitas masih berlanjut, rotasi bisa mengarah ke sektor defensif seperti consumer staples, kesehatan, serta perbankan besar yang memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi," ujar Elandry.

Sementara itu, selain faktor geopolitik, pelaku pasar tengah menantikan keputusan suku bunga acuan The Fed pada 17-18 Maret 2026 mendatang, serta arah suku bunga Bank Indonesia (BI).

"Kebijakan suku bunga, pergerakan harga minyak, kurs Rupiah, dan arus dana asing akan menjadi penentu utama arah IHSG ke depan," ujar Elandry.

Baca juga: Bakrie & Brothers akan "rights issue", incar dana hingga Rp6,5 triliun

Data perdagangan di BEI pada Senin (02/03) pukul 16.07 WIB, IHSG tercatat melemah 218,66 poin atau 2,66 persen ke posisi 8.016,83.

Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.596.000 kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 53,89 miliar lembar saham senilai Rp29,57 triliun. Sebanyak 113 saham naik, 704 saham menurun, dan 141 tidak bergerak nilainya.



Pewarta: Muhammad Heriyanto
Editor : Heri Sutarman

COPYRIGHT © ANTARA 2026