Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi IX DPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz meminta Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melakukan percepatan perluasan cakupan imunisasi, untuk memberi perlindungan dan mencegah komplikasi permanen pada anak akibat campak.

"Kami mendesak Kemenkes segera memperluas cakupan imunisasi. Jangan sampai ada celah imunitas (immunity gap) yang membuat anak-anak kita rentan. Tanpa perlindungan vaksin, risiko penyebaran akan terus meluas secara eksponensial," ujar Neng Eem dikutip di Jakarta, Senin.

Hal itu dia sampaikan merespons lonjakan kasus campak di Indonesia yang mencapai 8.224 kasus suspek dalam dua bulan pertama tahun 2026.

Diketahui berdasarkan laporan epidemiologi, per 23 Februari 2026, Indonesia telah mencatat 21 Kejadian Luar Biasa (KLB) di 17 kabupaten/kota yang tersebar di 11 provinsi. Situasi itu, menurut Neng Eem, merupakan situasi genting mengingat campak memiliki tingkat penularan yang sangat tinggi.

Secara klinis, Neng Eem lalu memperingatkan bahwa campak bukan sekadar infeksi kulit biasa.

Penyakit itu, kata dia, bersifat imunosupresif yang dapat melumpuhkan sistem kekebalan tubuh anak, memicu komplikasi fatal seperti pneumonia (infeksi paru), diare berat yang menyebabkan dehidrasi akut, hingga ensefalitis (radang otak).

Ia mengatakan data empat kematian yang dilaporkan menjadi bukti nyata bahwa penyakit itu sangat mematikan bagi anak dengan status gizi buruk atau daya tahan tubuh rendah.

"Campak bisa menyebabkan komplikasi serius hingga kematian. Selain berdampak langsung pada kesehatan individu, wabah ini memberikan tekanan berat pada sistem layanan kesehatan kita," kata dia.

Untuk menghentikan transmisi virus, Neng Eem menyampaikan diperlukan cakupan imunisasi minimal 95 persen guna membentuk kekebalan kelompok (herd immunity).

Akan tetapi, menurutnya, terdapat tantangan teknis di lapangan saat ini yang perlu diatasi, yakni tingginya angka penolakan akibat misinformasi vaksin.

Neng Eem menekankan bahwa strategi komunikasi risiko harus segera diperbaiki dengan melibatkan otoritas medis dan tokoh masyarakat yang memiliki kredibilitas di tingkat lokal.

Sebelumnya, Kemenkes telah menyatakan siap menggandeng pemerintah daerah, tokoh-tokoh penting seperti tokoh agama dan organisasi profes untuk meningkatkan cakupan di daerah yang rendah angka imunisasinya.

Baca juga: Kemenkes gencarkan imunisasi campak dan rubella bagi anak PAUD dan TK minggu depan

Baca juga: 12 orang meninggal akibat penyakit campak di Pamekasan sepanjang 2025



Pewarta: Tri Meilani Ameliya
Editor : Erwan Muhadam

COPYRIGHT © ANTARA 2026