Jakarta (ANTARA) - Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan bahwa kesepakatan perdagangan resiprokal (Agreement on Reciprocal Trade/ART) antara Indonesia dan Amerika Serikat merupakan mekanisme kesepakatan bilateral yang berlandaskan politik luar negeri bebas-aktif dan kepentingan nasional.

Disampaikan Juru Bicara Kemlu RI Yvonne Mewengkang, polugri bebas-aktif merupakan mandat konstitusi, sehingga kerja sama yang dijalin RI dengan negara mitra manapun, termasuk AS, harus ditempatkan dalam konteks kepentingan nasional.

“Hal itu juga tidak berarti kita punya keberpihakan strategis terhadap blok tertentu yang membuat negara lain bisa melihat ‘kamu dengan negara ini, saya terancam’ atau ‘kamu dengan pihak A atau B maka saya terancam’,” kata Yvonne dalam taklimat media di Jakarta, Jumat.

Pernyataan Yvonne disampaikan untuk merespons tanggapan pemerintah China terhadap perjanjian perdagangan resiprokal RI-AS, khususnya soal kemungkinan RI akan melakukan pembatasan impor yang sama seperti AS terhadap mitra dagang lain.

Jubir Kemlu RI itu menegaskan bahwa Indonesia hendak memperluas kemitraan dan hubungan baik dengan semua mitra, baik AS maupun China dan mitra-mitra strategis lainnya.

Karena itu, ART antara RI dan AS seyogianya tidak perlu dilihat sebagai langkah kerja sama yang akan mengusik kepentingan negara lain, terlebih karena kesepakatan tersebut disepakati dalam konteks hubungan bilateral.

“ART tidak akan mengubah prinsip politik kita. Bebas-aktif tetap dan akan terus menjadi kompas kita,” kata Yvonne.

“Sementara, kerja sama bilateral kita merupakan instrumen yang justru memperkuat tujuan kita memperoleh kepentingan nasional,” ucap dia, menambahkan.

Dalam kesempatan yang sama, Jubir II Kemlu RI Vahd Nabyl A. Mulachela menyatakan bahwa Indonesia selalu mencari kesamaan kepentingan dengan negara manapun melalui kerja sama bilateral yang produktif demi kepentingan nasional masing-masing.

Baca juga: Kemenlu Jepang keluarkan peringatan waspada ketidakpastian di Timur Tengah

Baca juga: Kemenlu pastikan KBRI London telah laporkan Bonnie Blue ke Otoritas Inggris

“Sehingga dengan China maupun AS, kita memiliki kesamaan kepentingan yang kita coba bangun demi membentuk kerja sama bilateral,” kata Nabyl.

Sebelumnya, kata Jubir Kemlu China Mao Ning, saat menjawab pertanyaan pewarta ANTARA dalam konferensi pers di Beijing, Selasa (24/2), kerja sama perdagangan ekonomi seyogianya tidak menargetkan pihak ketiga mana pun.

"China selalu mengatakan bahwa kerja sama perdagangan ekonomi yang bersifat saling menguntungkan antara semua negara maupun kerja sama terkait bidang lain tidak boleh menargetkan pihak ketiga mana pun atau merugikan kepentingan negara lain mana pun," kata Jubir Mao merespons pertanyaan terkait ART RI-AS.

 

 


 



Pewarta: Nabil Ihsan
Editor : Heri Sutarman

COPYRIGHT © ANTARA 2026