Jakarta (ANTARA) - Di tengah hiruk-pikuk gaya hidup konsumtif yang sering kali membayangi bulan suci, pendakwah Husein Jafar Al Hadar atau yang akrab disapa Habib Jafar, mengajak masyarakat urban untuk melakukan "reset" mental dengan cara bergeser dari sekadar menumpuk materi menjadi membangun kekayaan hati.

Pesan disampaikan  dalam rangkaian acara "Ramadan Baik Bersama Katadata" bertajuk “Jadi Muslim Kaya Hati, Bukan Cuma Kaya Materi” menjelang berbuka puasa di Taman Literasi Blok M, Jakarta Selatan, seperti  tertuang dalam keterangan yang diterima, Jumat.

Habib Jafar menekankan bahwa esensi puasa bukan sekadar memindahkan jam makan, melainkan latihan empati tingkat tinggi.

“Puasa membuat kita merasakan lapar dan haus. Dari situ empati tumbuh. Kita jadi paham betapa beratnya menjadi orang yang kekurangan, dan karena itu kita diajak untuk tidak membiarkan orang lain merasakannya sendirian,” ujar Habib Jafar.

Ia mengingatkan bahwa berbuat baik tidak boleh hanya menjadi simbol atau seremonial tahunan, melainkan harus lahir dari pengalaman batin yang nyata untuk keluar dari ego diri sendiri.

Dalam perspektif masyarakat urban, rezeki sering kali dikerdilkan hanya sebatas saldo rekening atau aset fisik. Namun, Habib Jafar mematahkan stigma tersebut. Ia menyebut kesehatan, iman, dan terutama waktu, adalah bentuk rezeki yang jauh lebih mahal.

“Banyak keluarga bahagia bukan karena diberi uang, tapi karena diberi waktu. Kehadiran itu rezeki yang paling dibutuhkan hari ini,” tuturnya, menyoroti fenomena "kelangkaan kehadiran" di tengah kesibukan kota besar.

Senada dengan pesan tersebut, CCO Katadata Heri Susanto menegaskan bahwa tema "Kaya Hati" dipilih sebagai kritik reflektif atas kecenderungan masyarakat modern yang sering mengukur nilai diri lewat status ekonomi.

“Ramadan mengajak kita berbenah; dari fokus memiliki menjadi memaknai, dari hobi mengumpulkan menjadi semangat memberi,” kata Heri seraya mengutip Surah Al-Baqarah ayat 245 tentang janji balasan berlipat ganda bagi mereka yang bersedekah.

Sisi menarik lainnya diungkapkan oleh Manajer Databoks, Jamalianuri. Berdasarkan data internal, terjadi tren peningkatan signifikan pada literasi zakat dan donasi digital di kalangan generasi muda.

Kanal digital menjadi pilihan utama karena kemudahan, kepraktisan,  dan transparansi tentunya. Fokus kini beralih pada transparansi penyaluran dana agar dampak sosialnya benar-benar dirasakan umat.

VP Finance and Business Development Katadata, Ivan Triyogo Priambodo, menambahkan bahwa zakat harus dipandang sebagai investasi sosial berkelanjutan, bukan sekadar penggugur kewajiban individu.

Menutup tausiahnya, Habib Jafar berpesan bahwa menjadi "Kaya Hati" adalah sebuah proses yang harus dilatih terus-menerus.

“Segala sesuatu diawali dari pikiran dan niat. Kalau pikiran dan hati kita benar, hidup kita akan ikut tertata,” pungkasnya.

Acara ini menegaskan bahwa di balik lapar dan dahaga, Ramadan adalah sekolah mental untuk membangun pribadi yang merasa cukup (qana'ah), empatik, dan hadir seutuhnya bagi sesama.



Pewarta: Antara
Editor : Feru Lantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026