Jakarta (ANTARA) - Dunia usaha pelaku logisik rantai pasok menilai bahwa stabilisasi harga bahan kebutuhan pokok selama Ramadhan dan Idul Fitri perlu ditopang dengan reformasi rantai pasok yang terintegrasi.
Hal tersebut dikatakan oleh Ketua Dewan Pembina DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) sekaligus Senior Vice President FIATA, Yukki Nugrahawan Hanafi, Senin.
Ia menilai stabilitas harga bahan pangan pada periode Ramadan dan Idul Fitri terus menjadi isu tahunan yang memerlukan pendekatan struktural yang strategis, khususnya dari sisi logistik rantai pasok.
"Penguatan koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah merupakan langkah penting yang sudah dilakukan sebagai bagian intervensi jangka pendek dalam meredam volatilitas harga bahan pokok. Namun secara struktural secara jangka panjang, stabilitas harga juga merupakan hasil dari sistem rantai pasok yang efisien, terintegrasi, dan transparan," katanya.
Lebih lanjut, Yukki melihat pada perspektif makro harga yang stabil menciptakan kepastian usaha, visibilitas permintaan, kepercayaan investor, serta perlindungan daya beli masyarakat.
Sementara pada perspektif logistik rantai pasok, volatilitas harga sering dipicu disrupsi arus perdagangan, ketidakseimbangan supply-demand antarwilayah, bottleneck transportasi dan pelabuhan, serta keterbatasan visibilitas data rantai pasok.
"Pengendalian inflasi pangan tidak berdiri sendiri. la terhubung dengan trade flows, freight cost, port performance, dan governance. Ke depan, penguatan tata kelola rantai pasok harus menjadi agenda bersama pemerintah melalui penguatan kolaborasi dengan dunia usaha dan berbagai stakeholders relevan pelaku usaha logistik," tambah Yukki.
Untuk mendorong reformasi struktural agar menjaga stabilitas harga bahan kebutuhan pokok dalam jangka panjang, Yukki menjabarkan tiga rekomendasi kebijakan pada tata kelola reformasi sektor logistik dan rantai pasok nasional, yaitu
Pertama, penguatan konektivitas domestik dan efisiensi pelabuhan. Hal ini penting sehingga pergerakan barang antar pulau harus cepat, terjangkau, dan terprediksi. Pelabuhan dan multimoda menjadi tulang punggung stabilitas distribusi.
Kedua, integrasi data real-time dan early warning system. Hal ini mencakup integrasi data produksi, stok, arus barang, dan harga untuk mencegah kelangkaan serta spekulasi.
Ketiga, penguatan koordinasi pemerintah dan dunia usaha. Kolaborasi menjadi kunci yang menggerakan kebijaakan dalam menjaga keseimbangan pasar, khususnya dari sisi pemerintah dengan pelaku usaha, freight forwarders, operator pelabuhan, dan distributor bahan pokok.
"Sebagai negara kepulauan, Indonesia memerlukan tiga pendekatan logistik rantai pasok ini untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok dalam jangka panjang, sehingga tahan terhadap lonjakan musiman seperti tingginya permintaan dalam periode Ramadan-Idul Fitri. Sebab, sistem logistik yang kuat bukan hanya menggerakkan barang tetapi juga menjaga stabilitas ekonomi nasional," demikian Yukki.
Pewarta: AntaraEditor : Feru Lantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.