Jakarta (ANTARA) - Pagi itu, Masat (46) berdiri menatap sebuah petak bangunan berukuran 1,23 meter x 5,5 meter di Jalan Pedongkelan Ukir Dalam Nomor 39, RT04/06, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat.

Dinding bangunan itu tak diplester. Pintu berbahan triplek nyaris hancur. Lantai hanya dilapisi semen seadanya. Sementara atapnya tak tertutup sempurna. Hanya ada satu ruangan di sana, yang menyatu dengan kamar mandi tanpa pintu.

Bangunan itu adalah tempat tinggal Masat selama ini. Di sebelahnya, ada dua petak bangunan lain yang berukuran tak jauh berbeda, yakni masing-masing 2,46 meter x 5,5 meter. Di sana tinggal kakak dan adik Masat bersama keluarga mereka.

Terdapat tiga kepala keluarga dengan jumlah delapan jiwa yang menghuni tiga petak rumah itu. Dari delapan orang itu, dua di antaranya menyandang disabilitas fisik dan salah satunya Masat.

Bangunan yang ditinggali Masat dulunya menjadi satu dengan yang didiami dua saudaranya. Bangunan itu warisan orang tua mereka. Masat  mengaku sudah tinggal kurang lebih 40 tahun di rumah itu.

Alih-alih direnovasi, rumah itu justru dibagi menjadi tiga untuk tiga rumah tangga. Selain ukuran menjadi lebih sempit, masalah lain yang dihadapi berupa atap rumah bocor, kamar mandi tak layak, dan instalasi listrik tak terpasang sesuai standar.

Saat hujan deras melanda Jakarta, rumah Masat kerap kebanjiran. Kali terakhir, rumahnya kemasukan air setinggi mata kaki orang dewasa. Karena bangunan yang dia tinggali berlantai dua, Masat bersama satu orang putranya menyelamatkan barang-barang penting ke lantai dua dan berdiam di sana hingga air surut.

Masat hanya bisa menerima keadaan itu. Pekerjaan sehari-harinya sebagai penyedia jasa servis elektronik panggilan tak memungkinkannya merenovasi rumah.

Tapi, Masat kini bersiap mengucapkan selamat tinggal pada tempat tinggalnya. Berbekal biaya Rp70 juta yang merupakan urunan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta, rumah tinggal Masat dan dua saudaranya akan dibedah melalui program "Bedah Rumah", merupakan kali pertama dilakukan personel penegak peraturan daerah (Perda) itu. Pembongkaran bangunan dilakukan personel Satpol PP dibantu warga sekitar.

Rasa syukur mendalam dirasakan Masat. Menghuni rumah layak bukan lagi mimpi baginya. Paling cepat pada April nanti, dia bersama keluarganya sudah bisa tinggal di bangunan dua lantai dengan desain baru.

Anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta memperlihatkan salah satu rumah di Jalan Pedongkelan Ukir Dalam RT04/06, Kapuk, Cengkareng, Jakarta Barat, yang akan direnovasi melalui program "Bedah Rumah". Program ini diinisiasi Satpol PP DKI Jakarta. ANTARA/Lia Wanadriani Santosa

Ubah citra

Peletakan batu pertama program Bedah Rumah yang diinisiasi Satpol PP DKI Jakarta pada Rabu (18/2) itu dihadiri Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno. Dia awalnya sempat bertanya-tanya mengapa para penegak Perda ikut andil menyoal hunian layak warga. Rano tak bermaksud merendahkan aparatur pemerintah daerah itu.

Wagub mengakui, permukiman termasuk yang tak layak huni menjadi masalah di Jakarta. Luas wilayah Ibu Kota sangat terbatas sementara jumlah penduduk melebihi kapasitas wilayah.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan, baru 37,71 persen rumah tangga di Jakarta yang memiliki akses terhadap hunian yang layak. Karena itu, peningkatan akses hunian layak di Jakarta pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) tahun 2025-2029 masih mengandalkan hunian vertikal dan penataan kawasan rukun warga (RW) kumuh.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta juga memperbaiki sistem tata kelola bagi warga Jakarta untuk mengakses hunian layak dan terjangkau, baik berupa sewa maupun milik.

Di lain sisi, kedinasan didorong untuk juga ikut andil menyelenggarakan program bedah rumah. Ini, kata Rano, menjadi bentuk kepedulian dan gotong royong dari masyarakat selain pemerintah daerah.

Program bedah rumah menjadi bagian dari strategi pengentasan kemiskinan melalui perbaikan kualitas hunian dan lingkungan, serta wujud nyata kehadiran pemerintah di tengah masyarakat.

Program ini bukan sekadar memperbaiki bangunan fisik menjadi aman dan sehat, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi warga yang membutuhkan.

Kolaborasi dan gotong royong lintas sektor menjadi kunci dalam meningkatkan kesejahteraan warga.

Hunian yang layak akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi penghuninya. Dari tempat tinggal yang baik akan tumbuh semangat baru untuk menjalani kehidupan dengan lebih optimistis.

Sementara itu, bedah rumah, bagi Kepala Satpol PP DKI Jakarta Satriadi Gunawan dilakukan sebagai wujud komitmen jajarannya mendukung pengentasan kemiskinan melalui peningkatan kesejahteraan masyarakat, khususnya yang tinggal dalam hunian dengan kondisi tidak layak.

Di sisi lain, ini menjadi upaya mengubah wajah atau citra Satpol PP yang kerap terlihat keras melalui tindakan represif, menjadi lebih humanis. Bagi dia, kehadiran Satpol PP tidak hanya dalam konteks penegakan peraturan daerah, tetapi juga membawa misi kemanusiaan.

Ada rencana kegiatan serupa akan dilakukan setiap bulan menyasar berbagai wilayah di Jakarta. Bentuknya bisa bedah rumah total seperti yang dilakukan pada hunian Masat, atau sebagian, menyesuaikan kebutuhan.

"Setiap bulan kami mencoba keliling untuk mengetahui masyarakat yang masih tinggal di hunian yang tidak layak," kata Satriadi.



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026