Jakarta (ANTARA) - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menilai produksi padi tetap terjaga di tengah dinamika iklim 2026, didukung berbagai upaya pemerintah dalam menjaga produksi, distribusi sarana, serta pendampingan kepada petani.
"Kami optimistis produksi padi nasional pada 2026 tetap terjaga di tengah dinamika iklim yang masih berpotensi memicu curah hujan tinggi di sejumlah wilayah pertanian," kata Dewan Pakar DPD Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jawa Barat Entang Sastraatmaja sebagaimana keterangan di Jakarta, Jumat.
Entang menegaskan, tantangan iklim tidak serta-merta menjadi penghambat produksi. Justru, berbagai program Kementerian Pertanian yang fokus pada peningkatan produksi dinilai telah berada di jalur yang tepat dan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat swasembada pangan nasional.
“Saya yakin petani tetap mampu berproduksi dengan baik meskipun terjadi hujan ekstrem. Pemerintah secara serius membangun optimisme petani melalui berbagai program yang nyata dan terukur,” ujar Entang.
Baca juga: Perempuan Tani HKTI dorong inklusivitas pertanian menuju kemandirian pangan Indonesia
Menurutnya, kesiapan produksi dan penyerapan gabah pada musim panen 2026 ditopang oleh distribusi benih unggul, penambahan alokasi pupuk subsidi, serta dukungan sarana pengelolaan air seperti sistem pompanisasi yang membantu mengatur lalu lintas air di lahan pertanian.
“HKTI mendukung penuh langkah pemerintah dalam mempersiapkan musim tanam para petani. Persiapan tanam adalah fondasi utama untuk menjaga keberlanjutan produksi padi nasional,” tegasnya.
Entang menilai, keberhasilan peningkatan produksi padi nasional sepanjang 2025 menjadi bukti konkret bahwa kerja bersama antara pemerintah dan petani membuahkan hasil positif. Persiapan tanam yang matang pada periode sebelumnya dinilai menjadi kunci agar capaian tersebut tidak hanya bertahan, tetapi juga meningkat pada 2026.
“Petani harus tetap optimistis dan menjaga semangat. Apa yang dilakukan pemerintah saat ini sudah berada di jalur yang benar dan sejalan dengan visi besar Presiden Prabowo Subianto dalam mewujudkan ketahanan pangan dan swasembada beras yang berkelanjutan,” katanya.
Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), potensi luas panen Januari-Maret 2026 memiliki peningkatan yang cukup siginifikan, diperkirakan mencapai 3,28 juta hektare, atau meningkat sebesar 15,32 persen dibandingkan Januari-Maret 2025 yang hanya 0,42 juta hektare untuk bulan Januari, 0,76 juta hektare untuk Februari dan 1,67 juta hektare untuk Maret.
Baca juga: Wamen Pertanian bersama Ketum Pertani HKTI lepas 23 penerima beasiswa Agri Srikandi
Pewarta: Muhammad HariantoUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026