Jakarta (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membantah Sistem Pemantau Kualitas Udara (SPKU) di sekitar fasilitas RDF Plant Rorotan, Cilincing dimatikan, namun menjalani uji kalibrasi lapangan untuk memastikan data kualitas udara dan kebauan yang dihasilkan akurat dan presisi.
“Tidak ada pemadaman atau penghentian pemantauan. Yang dilakukan adalah proses kalibrasi lapangan agar sensor membaca kondisi lingkungan secara tepat dan tidak menimbulkan salah tafsir terhadap data mentah,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi DKI Jakarta, Asep Kuswanto di Jakarta, Minggu.
Hal ini dia sampaikan untuk membantah informasi yang menyatakan ada penghentian alat pemantau kualitas udara di sekitar RDF Rorotan.
Baca juga: DKI Jakarta tingkatkan teknologi pengendalian lingkungan di RDF Plant Rorotan
Baca juga: Pengelolaan sampah di Jakarta Utara harus lebih baik dibandingkan RDF Rorotan
Asep mengatakan, uji kalibrasi dilakukan untuk mengidentifikasi potensi bias sensor akibat karakter lingkungan setempat, termasuk pengaruh wilayah pesisir.
Dalam prosesnya, DLH melakukan pengambilan sampel kebauan ambien secara terstandardisasi, kemudian mengujinya di laboratorium terakreditasi.
Hasil laboratorium tersebut selanjutnya dibandingkan dengan data pembacaan SPKU untuk penyempurnaan sistem sebelum data ditampilkan secara penuh kepada publik.
“SPKU berfungsi sebagai early warning system (peringatan dini) dan alat membaca tren perubahan kualitas udara dari waktu ke waktu, bukan untuk menarik kesimpulan instan,” kata Asep.
Baca juga: DLH minta warga tak khawatirkan RDF Plant Rorotan
Asep mengatakan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan kualitas udara secara berkelanjutan, mengevaluasi operasional RDF Plant Rorotan secara bertahap, serta menyampaikan informasi kepada masyarakat secara terbuka dan berbasis data ilmiah.
Adapun sejak akhir Desember 2025, Pemprov DKI telah memasang delapan unit SPKU di sekitar RDF Plant Rorotan yang dilengkapi sensor pemantauan kebauan ambien dengan parameter antara lain amoniak, hidrogen sulfida, metil merkaptan, metil sulfida, dan stirena.
Sistem ini menjadi yang pertama di Indonesia yang secara khusus dilengkapi sensor pengukur kebauan ambien.
Pewarta: Lia Wanadriani SantosaUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026