Serang (ANTARA) - Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Provinsi Banten Tinawati Andra Soni mendorong penguatan edukasi HIV/AIDS berbasis keluarga dan pelajar sebagai upaya menekan angka penularan yang masih ditemukan di sejumlah kabupaten/kota di Banten.

Dorongan tersebut disampaikan Tinawati saat menerima audiensi Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Banten di Gedung PKK Provinsi Banten, KP3B Curug, Kota Serang, Selasa, yang membahas peluang kolaborasi program edukasi dan pencegahan.

“Insya Allah nanti coba kita formulasikan supaya sama-sama bisa dijalankan dengan baik, khususnya di ranah anak-anak, pengetahuan tentang hubungan seksual dan penularan penyakit melalui hubungan seksual dan lain sebagainya,” ujar Tinawati.

Ia menegaskan tingginya angka penularan HIV/AIDS di berbagai wilayah menjadi perhatian serius dan membutuhkan penguatan peran keluarga sebagai garda terdepan edukasi, terutama bagi anak-anak dan remaja di lingkungan pendidikan.

Baca juga: Dinkes OKU perluas layanan tes HIV/AIDS gratis
Baca juga: Bupati Parigi: Penanggulangan HIV perlu kolaborasi dan perhatian bersama

Menurut Tinawati, pendekatan edukasi sebaya dinilai efektif karena anak-anak dan remaja cenderung lebih mudah menerima informasi dari teman seusia mereka, sehingga pesan pencegahan dapat tersampaikan secara lebih terbuka dan berkelanjutan.

Sementara itu, Sekretaris KPA Provinsi Banten dr Santoso Edi Budiono mengatakan audiensi dilakukan sebagai bagian dari keanggotaan KPA dalam program PKK. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperluas jangkauan sosialisasi dan pencegahan melalui program PKK Mengajar.

“KPA ingin terlibat aktif membuka pemahaman masyarakat melalui sosialisasi dan pencegahan, sehingga diharapkan dapat menghilangkan stigma dan diskriminasi terhadap penderita HIV/AIDS,” ujarnya.

Ia menjelaskan stigma dan diskriminasi masih menjadi salah satu penghambat utama dalam penemuan kasus dan pengobatan penderita HIV/AIDS, sehingga edukasi menjadi kunci untuk mendorong masyarakat lebih terbuka dan peduli.

Baca juga: MUI Banjarmasin beri perhatian serius pada kasus HIV-AIDS

Menurut Santoso, KPA saat ini bekerja dari hulu melalui sosialisasi dan pencegahan, mengingat Indonesia berada di peringkat ke-14 dunia dalam penyebaran HIV/AIDS. Dari 73 persen kasus nasional, sebanyak 11 provinsi menjadi penyumbang utama, termasuk Provinsi Banten yang berada di posisi kesembilan.

Terkait edukasi, ia menilai pendidikan kesehatan reproduksi dapat dimulai sejak sekolah dasar atau sekolah menengah pertama. Namun, dibutuhkan kurikulum yang lebih mudah dipahami karena pendidikan jasmani dan kesehatan di sekolah masih bersifat pengantar dan belum menyentuh aspek teknis pencegahan.

“Karena itu pentingnya perhatian bersama untuk mencapai target triple zero pada tahun 2030. Dengan tercapainya triple zero, diharapkan Indonesia memiliki generasi yang lebih baik menuju Indonesia Emas 2045,” ujar dia.



Pewarta: Devi Nindy Sari Ramadhan
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026