Jakarta (ANTARA) - Delegasi Indonesia mengikuti pertemuan internasional Tokyo International Group (TIG) yang diselenggarakan di Seikyo Shimbun, Jepang, bersama perwakilan lebih dari 20 negara.
Pertemuan ini menjadi ruang dialog lintas budaya yang menandai dimulainya agenda tahunan TIG, dengan tujuan membangun rasa kebersamaan, keteguhan moral, serta daya saling menguatkan di tengah tantangan global yang kian kompleks.
Delegasi Indonesia terdiri dari Dr. Devie Rahmawati (Associate Professor Program Vokasi Universitas Indonesia), M. Zaky Ramadhan (Folks Strategic), Dr. Wiratri Anindhita (Universitas Negeri Jakarta), dan Assoc. Prof. Dr. La Mani (Bina Nusantara University).
Selain mengikuti forum utama, delegasi Indonesia juga terlibat aktif dalam dialog di kelas bersama mahasiswa internasional, di mana Devie, Zaky, Wiratri, dan La Mani berdiskusi langsung dengan mahasiswa dari berbagai negara.
Pertemuan ini mempertemukan peserta dari berbagai latar kebangsaan, termasuk Amerika Serikat, India, Inggris, Prancis, Brasil, dan Indonesia, dalam suasana dialog yang setara.
Setiap peserta diberi ruang untuk berbicara, didengar, dan diperlakukan dengan martabat yang sama. Praktik ini mencerminkan secara nyata prinsip yang berulang kali ditegaskan oleh Daisaku Ikeda, bahwa dialog bukan alat retorika, melainkan disiplin moral untuk memuliakan kehidupan manusia.
Dalam diskusi, muncul kesadaran bersama bahwa tantangan global, mulai dari krisis sosial, tekanan mental generasi muda, hingga fragmentasi identitas, tidak dapat diselesaikan melalui pendekatan tunggal atau dominasi satu perspektif.
Sebaliknya, diperlukan ruang perjumpaan yang memungkinkan manusia saling belajar, saling menguatkan, dan menciptakan nilai di tengah perbedaan.
Global Citizenship sebagai Latihan Etis
Devie, selaku ilmuwan sosial, menilai pertemuan ini sebagai contoh konkret bagaimana gagasan Ikeda tentang value creation dan dialog dijalankan dalam praktik keseharian lintas bangsa.
“Global citizenship tidak lahir dari mobilitas global semata, tetapi dari latihan etis untuk mendengarkan, menahan ego, dan mengakui martabat orang lain,” ujar Devie.
“Apa yang saya pelajari di forum ini adalah bagaimana nilai-nilai Bapak Ikeda, tentang dialog, keberanian batin, dan penciptaan nilai, diterjemahkan menjadi kebiasaan kolektif, bukan slogan normatif.”
Devie menambahkan bahwa pengalaman berdialog langsung dengan mahasiswa internasional memperlihatkan bagaimana pendidikan kewargaan global seharusnya dibangun: melalui percakapan yang reflektif, aman secara emosional, dan mendorong tanggung jawab sosial.
“Dialog kelas yang kami jalani bukan bertujuan mencari keseragaman pandangan, tetapi melatih kemampuan hidup bersama dalam perbedaan. Ini pelajaran penting bagi Indonesia, negara yang majemuk, di mana kohesi sosial hanya bisa dijaga jika dialog menjadi kebiasaan, bukan respons krisis,” lanjutnya.
Bagi delegasi Indonesia, pertemuan ini memberikan bahan refleksi mendalam tentang tantangan pendidikan, kepemudaan, dan kohesi sosial di tanah air.
Nilai-nilai yang ditekankan dalam forum, kesetaraan manusia, keberanian menghadapi penderitaan, dan komitmen menciptakan nilai, dipandang relevan untuk merespons konteks Indonesia yang dihadapkan pada polarisasi sosial, tekanan digital, dan kerentanan generasi muda.
Keterlibatan Zaky Ramadhan dan Wiratri Anindhita dalam dialog lintas negara juga memperkaya perspektif mengenai pentingnya pendekatan lintas disiplin, menggabungkan transformasi organisasi, komunikasi publik, dan literasi sosial, dalam membangun praktik kewargaan yang lebih manusiawi.
Sementara itu, La Mani menekankan dimensi kepercayaan dan ketahanan komunitas sebagai fondasi dari perdamaian yang berkelanjutan.
Pertemuan internasional di Seikyo Shimbun ini menunjukkan bahwa pemikiran Daisaku Ikeda tetap relevan bukan karena dihafalkan, tetapi karena dihidupkan dalam praktik dialog yang setara, reflektif, dan berorientasi pada martabat manusia.
Bagi Indonesia, pelajaran terpenting dari perjumpaan ini adalah bahwa perdamaian dan kohesi sosial tidak dibangun melalui narasi besar semata, melainkan melalui kebiasaan kecil untuk saling mendengar, memahami, dan menciptakan nilai bersama di tengah keberagaman.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.