Jakarta (ANTARA) - Organisasi otonom Ormas Islam Hidayatullah, Pemuda Hidayatullah, menggelar Musyawarah Nasional (Munas) IX di Jakarta, yang menyoroti peran strategis pemuda sebagai aktor kunci dalam menentukan arah masa depan bangsa.“

Ikrar satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa merupakan titik temu visi kolektif yang mempersatukan pemuda lintas latar belakang. Dari sinilah identitas nasional Indonesia dibangun dan terus dirawat hingga hari ini,” ujar anggota Pemuda Hidayatullah Mazz Reza Pranata dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Dalam sesi Upgrading Dai pada rangkaian Munas ini, Reza memaparkan proyeksi Indonesia di masa depan yang menunjukkan potensi besar. Data menunjukkan pada 2026 Indonesia memiliki sekitar 40,3 juta penduduk berusia di bawah 30 tahun, dengan pendapatan per kapita mencapai 5.520 dolar AS.

Ia menyebut pada 2030, jumlah konsumen diperkirakan menembus 135 juta jiwa, dengan 71 persen populasi tinggal di kawasan urban yang memproduksi sekitar 86 persen produk domestik bruto. Bahkan pada 2050, Indonesia diproyeksikan menjadi ekonomi terbesar keempat di dunia.

Potensi demografi dan ekonomi tersebut, menurut Reza, hanya akan bermakna jika pemuda dibekali keterampilan yang relevan.

Ia memetakan sejumlah keahlian yang paling dibutuhkan menuju 2030, di antaranya literasi digital, pemasaran digital, analisis data, kecerdasan buatan, keamanan siber, serta soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, dan berpikir kritis.

Baca juga: BCF presentasikan abstrak tentang peran pemuda di forum internasional

"Berbagai keterampilan ini menjadi prasyarat untuk menyiapkan sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045," katanya.

Perubahan zaman juga ditandai oleh disrupsi besar dalam dunia bisnis. Reza menampilkan perbandingan antara masa lalu dan masa kini, di mana model bisnis konvensional tergeser oleh platform digital.

Transformasi ini melahirkan apa yang disebut sebagai lonely economy, sebuah fenomena ekonomi yang muncul akibat gaya hidup individual dan digitalisasi yang semakin meluas.

Fenomena tersebut melahirkan peluang usaha baru, mulai dari layanan pengantaran, pendampingan berbasis kecerdasan buatan, hingga ekonomi hewan peliharaan

"Ciri utamanya antara lain meningkatnya jumlah rumah tangga yang hidup sendiri, koneksi digital sebagai komoditas, serta perubahan pola relasi sosial," kata dia.

Dalam kerangka tersebut, Reza menekankan pentingnya pola pikir kewirausahaan di kalangan pemuda, khususnya dai muda. Ia menegaskan kewirausahaan bukan semata urusan bisnis, melainkan cara pandang dalam melihat dan merespons perubahan.

Baca juga: OIC Youth Indonesia dorong pemuda ambil peran dalam diplomasi global

Ia menambahkan bahwa kemampuan membaca peluang harus disertai nilai dan tujuan yang jelas. Bagi pemuda Islam, kewirausahaan harus berjalan seiring dengan etika, kebermanfaatan sosial, dan semangat pengabdian.


 



Pewarta: Asep Firmansyah
Editor : Heri Sutarman

COPYRIGHT © ANTARA 2026