Jakarta (ANTARA) - Dalam rangka menumbuhkan kepedulian lingkungan sejak usia dini, komunitas relawan Siap Bergerak menggelar program edukasi lingkungan bertajuk “RIMBUN: Riang Menanam Bersama untuk Lingkungan” di TK Al Muhajirin Cipedak sekaligus melakukan kegiatan menanam bersama di Kebon Bibit Cipedak, Jakarta Selatan.

Kegiatan dengan tema RIMBUN (Riang Menanam Bersama untuk Lingkungan) merupakan wujud nyata kepedulian terhadap pelestarian alam. Melalui kegiatan ini, anak-anak dari TK Al Muhajirin Cipedak diajak belajar sambil bermain, mengenal berbagai jenis tanaman, serta memahami pentingnya menjaga lingkungan lewat aktivitas menanam secara langsung. Program ini dirancang sebagai pengalaman edukatif yang menyenangkan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap alam sejak usia dini.

Ketua Yayasan Indonesia Siap Bergerak, Mila Viendyasari, menegaskan bahwa RIMBUN merupakan bagian dari strategi pembiasaan ekologis sejak dini.

“Berbagai studi menunjukkan bahwa nilai kepedulian lingkungan lebih efektif ditanamkan sejak usia dini melalui pengalaman langsung. RIMBUN kami rancang agar anak-anak tidak hanya mengenal tanaman sebagai objek belajar, tetapi sebagai makhluk hidup yang perlu dirawat bersama. Dari aktivitas sederhana inilah tumbuh kesadaran ekologis jangka panjang,” ujar Mila Viendyasari.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa merawat lingkungan bisa dimulai dari tindakan kecil seperti menanam dan menyiram tanaman. Dengan metode bermain dan praktik langsung, kami berharap pesan ini dapat tertanam sejak dini,” ujar Nayla Salsabila, Ketua Pelaksana Program.

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan 29 peserta dari TK Al Muhajirin Cipedak dan berhasil menanam 29 bibit tanaman. Jumlah tersebut menjadi simbol bahwa setiap anak memiliki kontribusi nyata melalui satu bibit yang ditanam dan dirawat bersama.

Dari perspektif ilmiah dan literasi lingkungan, Rienzy Kholifatur, Peneliti Klinik Digital, menekankan pentingnya pendekatan pembelajaran berbasis pengalaman dalam pendidikan lingkungan anak.

“Penelitian pendidikan lingkungan menunjukkan bahwa pembelajaran yang melibatkan praktik langsung, seperti menanam dan merawat tanaman, lebih efektif membentuk sikap pro lingkungan dibandingkan penyampaian konseptual semata. Aktivitas RIMBUN mempertemukan aspek kognitif, afektif, dan perilaku anak secara simultan, sehingga pesan ekologis lebih mudah dipahami dan diinternalisasi,” jelas Rienzy Kholifatur.

“Kegiatan ini sangat selaras dengan isu lingkungan yang masih hangat, khususnya deforestasi di Pulau Sumatra,” ujar Putie Hikari, Founder Jejak Baik.

“Laporan Eyes on the Forest menunjukkan bahwa luas hutan alami Sumatra yang pada 1985 mencapai sekitar 25 juta hektare telah menyusut drastis dan pada pertengahan 2010-an tersisa sekitar 11 juta hektare. Penurunan ini dipicu oleh alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit, industri pulp dan kertas, pertanian, serta penebangan ilegal. Dampaknya meliputi meningkatnya risiko banjir dan longsor, degradasi daerah aliran sungai, serta ancaman serius terhadap keanekaragaman hayati. Melalui kegiatan seperti RIMBUN, kita menyiapkan generasi yang memahami apa yang telah terjadi dan tidak mengulanginya di masa depan,” ungkap Putie Hikari.

Kegiatan RIMBUN terlaksana melalui kolaborasi lintas institusi. Program Studi Administrasi Perkantoran Vokasi Universitas Indonesia, Klinik Digital, dan Jejak Baik berperan sebagai mitra strategis Yayasan Indonesia Siap Bergerak yang mendukung perencanaan, pelaksanaan, serta penguatan nilai edukatif kegiatan. Sinergi ini memastikan bahwa edukasi lingkungan tidak bersifat seremonial, melainkan berkelanjutan, berbasis literasi, dan relevan dengan konteks sosial anak.

Pihak TK Al Muhajirin Cipedak menyambut baik kegiatan ini karena selaras dengan pembelajaran karakter dan pengenalan alam yang telah diterapkan di sekolah. Pengelola Kebon Bibit Cipedak juga berharap kegiatan ini mampu mendorong lebih banyak komunitas pemuda dan institusi untuk berpartisipasi dalam upaya penghijauan kota dan edukasi lingkungan secara berkelanjutan.

Kegiatan RIMBUN membuktikan bahwa edukasi lingkungan tidak harus disampaikan dalam format pengajaran formal, tetapi dapat dikemas secara riang, kreatif, dan dekat dengan keseharian anak-anak. Melalui pengalaman langsung tersebut, diharapkan tumbuh bibit kesadaran dan kecintaan terhadap alam yang akan terus berkembang hingga dewasa.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026