Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengungkapkan terdapat lima ruas jalan tol yang siap difungsionalkan untuk mengantisipasi lonjakan layanan selama Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.
Wakil Menteri Pekerjaan Umum (Wamen PU) Diana Kusumastuti dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, menyebutkan lima ruas jalan tol yang akan difungsionalkan yaitu Jalan Tol Sigli-Banda Aceh Seksi 1 (Padang Tiji-Seulimeum) sepanjang 24,67 kilometer (km).
Kemudian Jalan Tol Kuala Tanjung-Tebing Tinggi-Parapat Seksi 4 (Sinaksak-Simpang Panei ) sepanjang 12,86 km, Jalan Tol Palembang-Betung Seksi 2 (Rengas-Pulau Rimau) sepanjang 30,75 km, Jalan Tol Probolinggo-Banyuwangi Seksi 1 dan Seksi 2 (Gending-Paiton) sepanjang 24,08 km.
Lalu Jalan Tol IKN Seksi 3A, 3A2, 3B, 3B2, 5A, 5B, 6A dan Jembatan Pulau Balang sepanjang 50,227 km.
Penambahan 1 lajur pada Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Jalan Tol Cikampek-Palimanan, dan Jalan Tol Tangerang-Merak juga dilakukan untuk peningkatan kapasitas jalan.
"Ruas yang terdampak bencana juga terus dipulihkan, sementara jaringan jalan di wilayah lain tetap dalam kondisi mantap dan berfungsi sebagaimana mestinya. Sehingga kesiapan layanan konektivitas nasional untuk Nataru tidak terganggu dan dapat dilaksanakan sesuai rencana," ujarnya.
Tatapan matanya sayup. Ia seolah masih mencoba merekam kembali posisi lemari, meja makan, tempat tidur anak-anaknya semua yang kini sudah tidak ada. Setiap kali diajak bicara, ia menjawab perlahan, kemudian kembali terdiam, seakan pikirannya ditarik kembali ke momen ketika rumah sederhana itu terakhir kali ia lihat dalam keadaan utuh.
Kerusakan di Hutanabolon bukan hanya pada rumah. Sawah dan kebun yang menjadi sumber ekonomi warga juga hilang tersapu. Asidin Sitompul, petani kakao dan durian, menatap bukit tempat empat hektare kebunnya berada. Jaraknya tidak jauh, tetapi jalur yang menghubungkan ke kebun itu sudah hilang sama sekali.
“Semua hilang. Kalau pun sampai ke kebun, tidak ada yang bisa dibawa turun,” katanya pelan. Buah-buah yang sudah matang terpaksa dibiarkan membusuk. Bagi petani seperti Asidin, kehilangan kebun bukan sekadar hilangnya panen, tetapi musnahnya satu-satunya sumber hidup yang mereka bangun selama puluhan tahun.
Puluhan petani lain mengalami nasib yang sama. Ribuan hektare sawah yang biasanya menjadi tumpuan pangan desa sepanjang tahun, kini tertutup lumpur tebal, batang kayu besar, dan batu sebesar pelukan empat-lima orang dewasa.
Tanpa alat berat, tidak ada yang dapat dilakukan warga. Namun alat berat yang dikerahkan pemerintah hingga hari ini masih belum bisa menembus jalur yang tersumbat tumpukan material.
Meski berada dalam situasi paling sulit, solidaritas warga tumbuh tanpa perlu diperintah. Rumah Margembira Gultom, yang kebetulan berada di dataran lebih tinggi, menjadi tempat perlindungan bagi sekitar 30 kepala keluarga. Ruang tamu hingga dapur penuh dengan tikar, bantal, dan pakaian darurat.
Pakaian bersih yang ia miliki telah ia bagikan semuanya. Bahkan pakaian yang sedang dijemur pun ia serahkan ketika melihat tetangganya kedinginan tanpa sehelai baju kering. Ketika bantuan makanan belum tiba dalam 3-4 hari pertama, ia rela menyembelih babi dan lembu miliknya untuk dimakan bersama.
“Tidak ada lauk waktu itu. Hanya nasi putih tersisa. Jadi apa pun yang ada, kita masak ramai-ramai. Yang penting semua makan,” ujarnya, tanpa sedikit pun ragu.
Di pos pengungsian lainnya, kehidupan perlahan membentuk rutinitas baru. Anak-anak bermain bola di antara tenda, mandi di genangan banjir. Para ibu menjemur pakaian di tali seadanya di pinggir-pinggir jalan.
Sementara kaum lelaki sibuk memindahkan barang bantuan yang datang silih berganti, meski jumlahnya belum memadai. Sementara itu, petugas dan relawan kesehatan melakukan pemeriksaan seadanya bagi warga yang mulai mengeluh demam akibat cuaca dingin pegunungan.
Hingga hari ke-13 ini, jumlah korban jiwa masih terus diperbarui. Di Hutanabolon, 10 warga telah ditemukan meninggal dunia dan 15 lainnya masih hilang, bahkan belum bisa dilakukan pencarian, apalagi di Lingkungan IV Hutanabolon ini yang serupa latar film bertema perang, hancur.
Data ini menjadi bagian dari total 110 orang meninggal dan 93 orang hilang di seluruh Tapanuli Tengah.
Video banjir bandang yang viral menunjukkan gelombang air besar membawa balok kayu berukuran raksasa, entah dari mana datangnya, menghantam rumah warga, itu bukan sekadar tontonan penghibur waktu penat kita, tetapi itu adalah gambaran nyata betapa kuat arus yang menghancurkan hampir 200 bangunan rumah tempat usaha di desa ini, bahkan tak sedikit segala jenis kendaraan hanyut entah kemana.
Di wilayah hilir pun demikian banyak rumah terendam lumpur yang menumpuk nyaris hingga atap. Pemandangan itu dapat ditemui sepanjang perjalanan sekitar 10 kilometer dari wilayah Humala Tambunan Sigotom sampai titik keluar di simpang empat Kecamatan Tukka.
Jalan utama tertutup oleh tumpukan kayu, lumpur, dan batu setinggi orang dewasa. Upaya pembersihan manual tidak mungkin dilakukan. Alat berat pun kesulitan bekerja karena banjir dan longsor susulan terus terjadi setiap kali hujan sore mengguyur.
Menjelang malam, ketika sinar terakhir Matahari tenggelam di balik bukit dan langkah warga mulai melambat, Hutanabolon kembali larut dalam senyap.
Listrik padam hingga nyaris tak ada cahaya lampu rumah, hanya bayang terpal tenda yang bergerak pelan diterpa angin dingin pegunungan. Pada saat-saat seperti itu, seruan darurat dari kampung ini terasa paling nyata, bukan lewat suara, tetapi melalui cara mereka bertahan.
Bukan sekadar teriakan minta tolong; mereka masih menunggu kepastian bahwa kampung yang mereka cintai tidak ditinggalkan begitu saja.
Mereka pun mungkin tidak lagi memiliki jalan, kebun, atau dinding rumah untuk berlindung, tetapi masih memegang keyakinan bahwa pertolongan akan datang, dan tidak boleh ada warga yang dibiarkan sendirian dalam penderitaan.
