Kuningan (ANTARA) - Di banyak tempat, perbedaan agama kerap menjadi sekat yang membatasi hubungan sosial. Namun di Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan,
hal itu justru dilampaui oleh kekuatan kearifan lokal yang telah hidup ratusan tahun. Cipari bukan hanya multikultural—ia adalah ruang sosial tempat nilai kemanusiaan berdiri di atas identitas keagamaan.
Salah satu bentuk nyata kearifan lokal tersebut tampak dalam tradisi warga ketika menghadapi musibah kematian. Apabila seorang warga Katolik meninggal dunia, umat Islam, Hindu, Buddha, Protestan, hingga Sunda Wiwitan turut hadir,
bukan sekadar bertakziah, tetapi benar-benar membantu mengurusi jenazah: mulai dari mempersiapkan rumah duka, menata tempat persemayaman, hingga mengatur kebutuhan konsumsi bagi keluarga yang ditinggalkan.
Bagi masyarakat Cipari, kematian adalah urusan kemanusiaan, bukan urusan agama. Semua warga merasa memiliki kewajiban sosial untuk saling menguatkan.
Sebaliknya, ketika umat Islam berduka, warga Katolik dan pemeluk agama lainnya hadir memberikan bantuan. Mereka membantu keluarga yang kehilangan, ikut mengoordinasikan tamu, hingga menyediakan logistik selama rangkaian ritual berlangsung. Di Cipari, duka tidak pernah ditanggung sendirian.
Tradisi muji di kalangan umat Katolik menjadi salah satu kearifan lokal yang paling unik. Muji adalah bentuk doa bagi orang yang meninggal, yang berlangsung selama tujuh hari, empat puluh hari, hingga seratus hari—mirip struktur waktu tahlilan dalam tradisi Islam. Yang menarik, muji dipimpin langsung oleh pastor, dan doa-doanya dibacakan menggunakan kitab berbahasa Sunda.
Penggunaan bahasa Sunda tidak hanya sebagai medium komunikasi, tetapi simbol kedekatan budaya antara Katolik Cipari dengan masyarakat setempat. Bahasa lokal menjadi jembatan spiritual sekaligus identitas sosial yang mengikat warga lintas agama.
Dalam tradisi muji, umat Islam pun turut hadir disekitar rumah duka untuk menunjukkan kepedulian yang sama. Perbedaan ritual tidak menjadi masalah, karena yang dirawat adalah nilai-nilai kemanusiaan: empati, kebersamaan, dan penghormatan kepada yang wafat.
Begitu pula ketika umat Islam merayakan Hari Besar Islam (PHBI) seperti Maulid Nabi, Idul Adha, atau kegiatan keagamaan di pesantren. Semua umat beragama di Cipari turun tangan, ada yang ikut menyiapkan konsumsi, membersihkan lokasi kegiatan, hingga menjadi panitia lapangan.
Mereka tidak hadir sebagai peserta agama tertentu, tetapi sebagai warga Cipari yang memiliki tanggung jawab kolektif untuk menjaga kebersamaan.
Tradisi lintas agama ini tidak lahir dari wacana formal, tetapi dari kesadaran sosial yang tumbuh dalam budaya Sunda yang menjunjung tinggi nilai silih asah, silih asih, silih asuh.
Nilai ini menjadi fondasi kokoh bagi integrasi sosial di Cipari. Ia bekerja diam-diam, mengalir dalam interaksi sehari-hari, dan menciptakan rasa memiliki yang melampaui batas agama.
Jika dianalisis melalui perspektif antropologi fungsional ala Malinowski dan Radcliffe-Brown, Cipari adalah contoh nyata bagaimana budaya dan struktur sosial bekerja secara efektif.
Kearifan lokal memenuhi kebutuhan psikologis warga: rasa aman, rasa saling percaya, dan rasa memiliki bersama. Sementara struktur keagamaan, adat, dan kekerabatan memastikan stabilitas sosial tetap terjaga.
Kisah Cipari seakan menjadi cermin bagi Indonesia bahwa harmoni bukanlah angan-angan, melainkan realitas yang dapat dibangun melalui budaya dan kepedulian.
Di saat sebagian wilayah lain sibuk memperdebatkan perbedaan, Cipari menunjukkan bahwa yang paling penting bukanlah siapa yang berbeda, melainkan bagaimana kita hidup bersama.
Cipari tidak hanya mengajarkan toleransi; ia mengajarkan solidaritas. Bukan sekadar saling menghormati, tetapi saling mengasihi.
Model inilah yang layak dijadikan inspirasi bagi daerah multikultur lain di Indonesia, agar keberagaman tidak ditakuti, tetapi dipeluk sebagai kekayaan bersama.
Arief Amarudin: Mahasiswa Pascasarjana Prodi Komunikasi penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati, Bandung.
