Jakarta (ANTARA) - Tim pengabdian masyarakat Universitas Airlangga bersama Komunitas Sinagi Papua dan Green Living Support menjalankan program “Upaya Penggalian, Edukasi, dan Pelestarian Potensi Sumber Pangan Lokal untuk Atasi Stunting Papua Barat Daya.”
Program ini memadukan riset akademik, edukasi masyarakat, hingga pemberdayaan berbasis kearifan lokal agar masyarakat dapat kembali memanfaatkan pangan tradisional mereka.
Seperti disampaikan oleh Pak Rumayya dari Tim UNAIR, “Papua Barat Daya menyimpan potensi pangan luar biasa… solusi untuk masalah stunting bisa ditemukan di tanah sendiri melalui kearifan lokal dan edukasi berkelanjutan.”
Program diawali dengan survei tumbuhan pangan lokal di Distrik Klayili dan Aimas. Banyak tanaman bernutrisi tinggi seperti krokot, kelor, dan sagu ditemukan tumbuh liar di sekitar permukiman.
Temuan ini menjadi dasar pelatihan pengolahan pangan lokal yang dilaksanakan pada 13 September 2025, diikuti 25 mama-mama dari Kampung Klatomok, Asbaken, dan Malagubtuk.
Mereka berlatih membuat berbagai olahan seperti brownies krokot kukus, tortilla pisang hijau, dan puding daun kelor. Antusiasme peserta terlihat jelas; beberapa mulai mengembangkan ide usaha rumahan.
Salsabila dari Tim Sinagi Papua menyampaikan bahwa mama-mama merasa bangga karena pisang, kasbi, dan sagu dapat diolah menjadi kudapan lezat yang tak kalah dari makanan kota.
Kegiatan berlanjut pada 15 September 2025 melalui diseminasi permainan edukatif di SD YPK Maranatha Malagubtuk yang melibatkan 37 murid.
Anak-anak belajar mengenali pangan lokal, bahaya makanan instan, dan praktik memasak sederhana. Pendekatan bermain sambil belajar ini efektif menanamkan kesadaran sejak dini dan mendorong anak menjadi agen perubahan di rumah.
Salah satu capaian program adalah berdirinya Food-Lab Sinagi Papua di Kampung Klatomok. Ruang ini menjadi pusat pelatihan dan inovasi kuliner, tempat masyarakat mengolah tepung pisang, sagu, dan tapioka menjadi produk bernilai ekonomi.
Perubahan cara pandang masyarakat terhadap pangan lokal mulai terlihat. Menurut Ibu Onish dari Green Living Support, pelatihan ini membantu masyarakat kembali percaya diri memanfaatkan bahan yang tumbuh di tanah mereka sendiri.
Program ini juga mengusung pendekatan edukasi lintas generasi, menghubungkan anak dan orang tua dalam pembelajaran gizi yang saling melengkapi.
Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kesadaran gizi, tumbuhnya usaha kecil berbasis pangan lokal seperti kelompok “Kaban Fanagles,” serta dokumentasi kembali resep tradisional yang sebelumnya hanya tersimpan di kalangan sesepuh kampung.
Kolaborasi UNAIR, Sinagi Papua dan GLS menunjukkan bahwa solusi gizi tidak selalu harus datang dari luar; kekuatannya justru ada di dalam komunitas itu sendiri.
Dari dapur mama-mama Papua hingga kelas kecil SD YPK Maranatha Malagubtuk, inisiatif pangan lokal ini menumbuhkan kembali harapan bagi masa depan yang lebih sehat, mandiri, dan berkelanjutan.
Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, merupakan wilayah dengan kekayaan alam luar biasa, namun masih dibayangi angka stunting yang mencapai 30 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Paradoks ini terjadi karena potensi pangan lokal yang melimpah belum dimanfaatkan optimal, sementara makanan instan dan produk olahan dari luar Papua semakin mendominasi konsumsi harian masyarakat.
