Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno menyebut BRICS menjadi salah satu alternatif bagi negara-negara berkembang untuk saling berkumpul di tengah semakin sulitnya kondisi geopolitik dunia.
Berbicara pada sesi penutup Conference on Indonesian Foreign Policy (CIFP) 2025 di Jakarta, Sabtu, Wamenlu Havas menuturkan bahwa kondisi geopolitik saat ini sulit diprediksi, dan hubungan antarnegara berada dalam posisi yang makin tidak menentu. Karena itu, banyak negara mulai mencari berbagai alternatif baru.
“BRICS, menurut saya, adalah salah satu alternatif tersebut, tempat negara-negara berkembang berkumpul dan bekerja sama. Mereka berusaha mencari cara dan kebijakan baru, standar global baru, keberlanjutan, serta berbagai elemen lain yang tidak ditemukan di organisasi internasional yang ada sekarang,” katanya.
Havas menambahkan bahwa arah global yang tidak jelas, membuat banyak negara tidak lagi merasa puas dengan kebijakan yang ada, sehingga negara-negara mencoba berbagai pendekatan dan cara baru untuk menemukan jawabannya.
Baca juga: KIS ke-7 di UIII, Wamenlu sebut Indonesianis jadi jembatan Indonesia di komunitas global
Baca juga: Hadir di UIII, Wamenlu serukan para Indonesianis terus gelorakan Semangat Bandung
Menggambarkan kondisi dunia yang sulit, Havas mencontohkan bahwa banyak sektor yang menjadi bagian dari geopolitik, mulai dari teknologi, bisnis, hingga isu sosial. Salah satunya, kata dia, sedang terjadi di Ukraina.
Pewarta: Kuntum Khaira RiswanUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.