Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, memastikan daerah itu masih menjadi primadona tujuan investasi berkat keunggulan memiliki sejumlah kawasan industri terpadu yang saling terkoneksi di sepanjang koridor timur Jakarta.
Pelaksana tugas Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Bekasi Hasyim Adnan menyatakan realisasi investasi cenderung stabil bahkan meningkat, menandakan aktivitas sektor industri di daerah itu terus bergeliat dengan daya saing tinggi.
"Kami juga belum mendapatkan informasi terkait perusahaan yang akan merelokasi pabrik. Selama ini kami hanya menerima laporan realisasi investasi dari laporan kegiatan penanaman modal," katanya di Cikarang Kabupaten Bekasi, Kamis.
Dia mengatakan berdasarkan data capaian hingga akhir semester pertama 2025, Kabupaten Bekasi mencatat total realisasi investasi sebesar Rp40 triliun lebih, terdiri atas penanaman modal asing (PMA) sebesar Rp24 triliun lebih dan Rp15 triliun lebih penanaman modal dalam negeri (PMDN).
"Jumlah ini menjadi yang tertinggi di antara kota dan kabupaten lain se-Jawa Barat. Jumlah ini pun dipastikan terus mengalami peningkatan menjelang akhir tahun mendatang," katanya.
Sekretaris Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Bekasi Nur Hidayah Setyowati mengaku jumlah usaha industri yang menghentikan operasional sepanjang tahun ini tidak sampai 10 perusahaan.
Ia menegaskan pelaporan penutupan perusahaan dilakukan melalui sistem wajib lapor ketenagakerjaan yang menjadi kewenangan Kementerian Ketenagakerjaan sehingga laporan tersebut langsung masuk ke dalam database kementerian bukan ke pemerintah daerah.
"Yang melapor ke kami itu tidak sampai 10 perusahaan. Data wajib lapor itu pegangan di kementerian, kita hanya bisa melihat melalui pengawasan UPTD Wilayah 2 Ketenagakerjaan," katanya.
Dari laporan yang diteruskan ke Disnaker Kabupaten Bekasi, pemberhentian operasional beberapa perusahaan di daerah itu sepanjang tahun ini disebabkan sejumlah faktor dengan dominasi dampak ekonomi global.
"Alasan kenaikan upah minimum di Kabupaten Bekasi atau yang katanya karena enggan berinvestasi dan memilih hengkang, itu bukan faktor penghentian operasional perusahaan. Yang tutup itu murni karena alasan bisnis," ucapnya.
Menjelang penetapan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Bekasi 2026, berhembus isu mengenai penurunan minat para investor dengan indikator banyak pabrik hengkang dari Cikarang. Kalangan pengusaha maupun pekerja membantah kabar tersebut dengan beragam alasan.
"Salah satu alasan investasi di sini karena lokasinya relatif dekat dengan Jakarta, di bagian timur sehingga mendirikan pabrik di sini," kata President of Bosch for Region Asia Pacific South Vijay Ratnaparkhe saat peletakan batu pertama pembangunan pabrik di kawasan industri GIIC belum lama ini.
Senada dengan Vijay, Ketua Apindo Kabupaten Bekasi Muhammad Yusuf Wibisono mengatakan Bekasi masih menjadi daya tarik investor meski diakui jika upah terus meningkat bukan tidak mungkin perusahaan akan pindah ke daerah lain.
"Sebenarnya di Bekasi memang masih menjadi daya tarik, namun ya, bila isu upah ini juga tidak terselesaikan dengan baik, artinya tidak ada solusi tiap tahun, ribut terus gitu kan, ini juga akan menurunkan tingkat kepercayaan mereka untuk berinvestasi," katanya.
Deputy Director kawasan MM2100 Darwoto mengungkapkan bisnis industri saat ini telah memasuki generasi keempat ditandai perubahan sistem dari manual ke arah digitalisasi dengan pemanfaatan kecerdasan buatan sehingga membutuhkan transformasi dalam skala besar.
"Industri padat modal sudah mulai masuk ke wilayah Cikarang. Kalau ada perusahaan yang hengkang kemungkinan besar itu dari padat karya dan itu di luar kawasan industri. Industri padat modal ini justru akan meningkatkan kualitas serta value perusahaan," katanya.
Darwoto pun memastikan perubahan sistem industri ini tidak akan mengganggu iklim investasi namun justru meningkatkan daya saing industri apabila pemerintah mampu menerapkan kebijakan untuk menguatkan posisi industri Tanah Air.
"Begitu kuat di sini, pasti karena investor luar juga. Karena penduduk Indonesia banyak sehingga menjadi salah satu idola investor dari luar. Ketika industri dalam negeri dikuatkan maka kita akan memiliki daya saing tinggi. Ditambah kehadiran perusahaan-perusahaan data center yang turut mendukung transformasi generasi ketiga menjadi generasi keempat. Ini semakin menguatkan posisi kawasan Cikarang di industri nasional," katanya.
Sekretaris Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (KC FSPMI) Bekasi Sarino merespons kabar kepindahan para pengusaha sebagai upaya untuk membingkai tinggi UMK di Bekasi meski faktanya, UMK tidak berkorelasi pada pertumbuhan investasi.
"Itu yang membuat masyarakat terkecoh. Setiap tahun menjelang penandatanganan upah, selalu ada propaganda, framing, perusahaan banyak PHK, perusahaan pindah. Fakta di lapangan, itu PHK karena apa? Di Bekasi rata-rata dan mayoritas hampir semua bahkan penyebabnya adalah memang produk mereka sudah tidak laku," katanya.
Sarino mencontohkan pabrik alat musik di Cikarang yang belum lama ini tutup. Bukan karena tinggi upah melainkan penjualan produk yang semakin menurun di pasaran.
"Yamaha piano tutup karena sudah tidak laku. Zaman berkembang, banyak orang sudah memainkan model baru sehingga produk lama ditinggalkan. Bagaimana kalau produk tidak laku. Makanya PHK, bukan karena upah. Kita masih ingat dulu HP Nokia kurang bagaimana laku. Nah karena perkembangan zaman, HP menjadi Android, Nokia tutup bukan karena upah. Bekasi ambil contoh sama dengan Yamaha piano," ucap dia.
Alih-alih pindah, kata Sarino, justru banyak pabrik baru yang berdiri di Kabupaten Bekasi. Hanya saja tidak semua diekspos. "Kalau diperhatikan banyak di kawasan industri Cikarang, pabrik-pabrik baru manufaktur berdiri. Menteri-menteri juga turut hadir. Artinya Bekasi mulai ditinggalkan investasi itu tidak benar," kata dia.
