Kota Bogor (ANTARA) - Pemerintah Kota Bogor, Jawa Barat, membahas rencana aksi daerah percepatan eliminasi penyakit tuberkulosis (TBC) tahun 2025-2029.
Kepala Dinas Kesehatan Pemerintah Kota Bogor Sri Nowo Retno, melalui Diskominfo Kota Bogor, Kamis, menjelaskan penyakit TBC masih menjadi salah satu tantangan besar dalam kesehatan masyarakat, sehingga memerlukan penanganan serius, terpadu, dan berkelanjutan.
"Pemerintah Kota Bogor berkomitmen mendukung target nasional eliminasi TBC tahun 2030 sebagaimana tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2021 tentang Penanggulangan Tuberkulosis," kata Retno.
Pembahasan Rencana Aksi Daerah (RAD) Tuberkulosis dan Tim Percepatan Penanggulangan Tuberkulosis (TP2TB) Kota Bogor mulai berlangsung pada Selasa (18/11) lalu, dibuka oleh Wakil Wali Kota Bogor Jenal Mutaqin.
Baca juga: Menkes Budi Gunadi Sadikin apresiasi Desa Klapanunggal Bogor proaktif tangani pasien TBC
Pembahasan akan berlangsung selama beberapa waktu ke depan hingga dokumen RAD tersebut mendapatkan penetapan.
Proses penyusunan RAD dilakukan secara partisipatif melalui berbagai pertemuan yang melibatkan lintas program di Dinas Kesehatan, lintas sektor di lingkungan Pemerintah Kota Bogor, organisasi masyarakat, akademisi, serta mitra pembangunan.
Dokumen ini juga telah melalui tahap harmonisasi dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Provinsi Jawa Barat untuk memastikan kesesuaian substansi dan tata naskah hukum dengan ketentuan peraturan yang berlaku.
TP2TB dibentuk sesuai Keputusan Wali Kota Bogor sebagai langkah penguatan koordinasi lintas sektor. Setiap bagian dari TP2TB Kota Bogor memiliki peran penting dalam mengoordinasikan dan mempercepat upaya penanggulangan TBC di wilayah masing-masing.
Baca juga: Dinkes Kota Bogor jemput bola kasus TBC ke 20 titik pada 1-12 Februari
Melalui rembug ini, diharapkan setiap peserta dapat memahami peran dan tanggung jawabnya serta menyusun langkah-langkah konkret dalam percepatan penuntasan TBC di Kota Bogor.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pemantauan di tingkat wilayah, saat ini camat dan lurah di Kota Bogor telah memiliki akses terhadap Sistem Informasi Sigeulis yang menampilkan jumlah dan sebaran kasus TBC di masing-masing wilayah.
Dinas Kesehatan Kota Bogor mencatat, dari Januari hingga Oktober 2025 terdapat sekitar 1.683 anak di Kota Bogor yang terdiagnosis TBC, sedangkan secara keseluruhan pengidap, jumlahnya sekitar sebelas ribu kasus.
Selain itu, terdapat 280 kematian akibat TBC dan 139 kasus tuberkulosis resisten obat (TBC RO) yang jauh lebih sulit dan lebih mahal untuk ditangani. Kondisi ini diperburuk oleh angka keberhasilan pengobatan yang baru mencapai 83 persen, masih berada di bawah target 90 persen.
