Depok (ANTARA) - Sejak pertama kali menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 1991, Adib Chumaidy (71) telah menjadi saksi bagaimana keberlangsungan Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ini berjalan di Indonesia. Dari era Asuransi Kesehatan (Askes) hingga bertransformasi menjadi BPJS Kesehatan pada tahun 2014.
Pergantian nama dan sistem menjadi BPJS Kesehatan tak lantas menghentikan status kepesertaannya. Sosok pria yang akrab disapa Adib ini mengaku sudah menjadi peserta JKN selama puluhan tahun semenjak ia resmi diangkat sebagai PNS dan selama itu pula ia sudah merasakan berbagai manfaat layanan kesehatan dari Program JKN. Rabu (27/08).
“Awal diangkat jadi PNS, saya sudah didaftarkan langsung sebagai peserta Askes oleh dinas tempat saya bekerja, kurang lebih ya sudah puluhan tahun mengikuti program ini. Dulu namanya masih Askes, tapi 2014 lalu, Askes berubah nama menjadi BPJS Kesehatan. Sebenarnya sama aja, yang bedain kalau dulu Askes hanya untuk PNS tetapi dengan hadirnya BPJS Kesehatan semua masyarakat bisa merasakan perlindungan kesehatan yang merata. Sekarang saya sudah pensiun dan kepesertaan JKN saya masih tetap aktif. Meskipun sudah pensiun, saya masih tetap bisa mengakses layanan kesehatan menggunakan JKN. Kebetulan saya juga rutin menjalani pemeriksaan kesehatan ke beberapa dokter dan menurut saya memiliki jaminan kesehatan ini sangat penting,” ujarnya.
Baca juga: Sosialisasi JKN, masyarakat Depok kian paham manfaatnya
Baca juga: Sudah 9 tahun jadi peserta JKN, Mutia rasakan manfaat di saat darurat
BPJS Kesehatan juga mengelola sebuah program yang dikenal dengan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS). Program ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup peserta melalui pendekatan proaktif dan terintegrasi.
Prolanis ditujukan untuk peserta JKN yang memiliki penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi. Diketahui ternyata Adib juga memiliki penyakit yang berhubungan dengan kolesterol, gula dan tekanan darah yang tinggi sehingga ia harus menjalani pemeriksaan ke beberapa dokter spesialis disalah satu rumah sakit di Depok. Pemeriksaan dilakukan setiap dua minggu sekali untuk mendapatkan obat-obatan yang wajib ia konsumsi secara rutin seumur hidup.
“Beberapa tahun belakangan ini saya lumayan sering mengakses layanan kesehatan pakai JKN karena harus periksa ke dokter saraf dan dokter paru. Karena penyakit gula, kolesterol dan hipertensi, saya harus konsumsi obat seperti allopurinol, forfastatin dan amplodipin seumur hidup. Sebelumnya saya harus periksa rutin setiap dua kali seminggu untuk dapatin obatnya tapi setelah ditetapkan sebagai peserta Program Rujuk Balik (PRB) saya tidak perlu kontrol ke rumah sakit lagi melainkan cukup mengambil obat ke apotek berdasarkan resep yang sudah diberikan sebelumnya. Alhamdulillah semua obat-obatan yang saya dapatkan semuanya gratis dijamin JKN. Meskipun harus berobat rutin dan berkelanjutan, saya bersyukur tidak pernah mengalami rawat inap,” ucapnya.
Baca juga: Istri Kuswantoro jalani pengobatan gagal ginjal gratis pakai JKN
Selama menjalani pengobatan, seluruh biaya perawatan ditanggung penuh oleh BPJS Kesehatan. Saat diwawancarai, ternyata istri dan anak-anak Adib juga terdaftar sebagai peserta JKN. Ia menjelaskan bahwa sang istri sudah terdaftar sebagai peserta JKN dari kantornya sendiri, sedangkan kedua anaknya tercatat sebagai tanggungan dalam kepesertaannya.
Bagi Adib, keberadaan BPJS Kesehatan memberikan jaminan perlindungan yang sangat berarti, terutama di masa pensiun. Ia merasakan betul bagaimana program ini memudahkan masyarakat, khususnya mereka yang membutuhkan pengobatan rutin dengan biaya yang tidak sedikit. Ia juga mengingatkan kepada masyarakat luas terutama yang belum terdaftar sebagai peserta JKN betapa pentingnya Program JKN untuk perlindungan kesehatan.
“Anak dan istri saya sudah terdaftar sebagai peserta JKN, alhamdulillah anak-anak jarang pakai dan istri juga terdaftar dari kantornya tapi nanti kalau pensiun mungkin ikut ke saya lagi. Menurut saya di masa saat ini, apalagi saya yang udah pensiun wajib banget punya jaminan kesehatan karena sehat itu mahal dan kalau sudah sakit pasti butuh biaya besar. Kalau tidak ada Program JKN, saya tidak tahu harus sebanyak apa uang yang saya habiskan untuk beli obat. Jadi saya pesan ke masyarakat, jangan takut untuk berobat dan ayo manfaatkan Program JKN. Harapan saya ke depannya semoga keberadaan Program JKN ini semakin diperkuat agar tetap bisa memberikan rasa aman kepada masyarakat melalui perlindungan kesehatan yang diberikan,” tutup Adib.
