Depok (ANTARA) - Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola oleh BPJS Kesehatan terus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Gali (42), warga Kelurahan Sawangan Baru, Depok, merupakan salah satu masyarakat yang sudah merasakan langsung manfaat ketika menggunakan Program JKN untuk kebutuhan persalinan istri dan pengobatan anaknya.
Ia mengaku sudah terdaftar sebagai peserta JKN ini sejak masih bekerja di perusahaan sebelumnya. Saat dijumpai oleh Tim Jamkesnews, terlihat Gali sedang mengantre di loket tunggu pelayanan BPJS Kesehatan Cabang Depok dan membawa beberapa berkas administrasi yang diperlukan. Selasa (05/08).
“Saya merupakan salah satu warga Kota Depok yang merasakan bagaimana pemerintah itu hadir untuk membantu masyarakat melalui Program JKN. Kebetulan saya terdaftar sebagai peserta JKN ini sudah cukup lama, awalnya dibayarin perusahaan cuma karena sudah resign jadinya tidak aktif. Menurut saya kepesertaan JKN ini jangan sampai dibiarkan tidak aktif, harus dipastikan selalu aktif karena kita tidak tahu kapan kita akan butuh. Kalau tidak bisa diurus ke kantor bisa diurus online juga ternyata melalui aplikasi Mobile JKN, Whatsapp Pandawa, atau bisa dari Care Centernya yang 165. Ini saya sudah bawa semua dokumen yang dibutuhkan supaya kepesertaan JKN saya aktif lagi,“ ujar Gali saat diwawancarai.
Baca juga: Citra: Dari kontrol kehamilan hingga persalinan, semua dijamin JKN
Ia juga ikut membagikan pengalamannya saat menggunakan Program JKN ketika istrinya melahirkan. Dari cerita Gali, istrinya sempat dirujuk ke beberapa rumah sakit sebelum persalinan.
Saat itu ia dan keluarganya masih terdaftar sebagai peserta Pekerja Penerima Upah (PPU) di kelas satu. Untuk peserta PPU diberikan hak untuk mendaftarkan istri dan tiga orang anak yang iurannya sebagai peserta JKN dengan iuran yang dibayarkan kantor.
Berdasarkan pengalamannya, Gali mengaku mendapatkan pelayanan yang bagus saat di fasilitas kesehatan (faskes). Menurutnya makanisme penggunaan Program JKN untuk berobat cukup sederhana karena bisa dengan menunjukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) atau kartu digital pada aplikasi.
Baca juga: Nardianto: BPJS itu bukan jual-beli, tapi bentuk gotong royong untuk semua
“Istri saya melahirkan selalu pakai Program JKN. Terakhir sempat dirujuk ke Rumah Sakit (RS) Halim Perdanakusuma, lalu ke RS Islam Cempaka Putih dan terakhir di RS Mitra Keluarga Depok karena emang ada indikasi medis kata dokter kandungannya. Waktu itu juga saya terdaftarnya di hak rawat kelas satu dari perusahaan, pelayanan yang saya terima bagus dan memuaskan. Dokter dan tenaga medis di sana ramah, informatif dan cepat tanggap. Sekarang karena sudah tidak bekerja lagi, saya mau daftar yang berbayar mandiri kelas tiga dan semoga pelayanan yang diberikan tetap konsisten tanpa membeda-bedakan pasien. Salah satu untungnya berobat pakai Program JKN itu kalau mau berobat tidak ribet karena bisa menunjukkan KTP saja tanpa perlu fotokopi dokumen-dokumen lagi,” jelasnya.
Tak hanya istrinya, anaknya pun sempat memanfaatkan layanan JKN untuk berobat karena mag akut yang diderita sehingga harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit. Pelayanan kesehatan yang mereka dapatkan masih sama konsistennya.
Galih merasa puas dengan pelayanan kesehatan yang sangat membantu ia dan keluarga selama di rumah sakit. Anaknya mendapatkan pengobatan intens hingga benar-benar pulih.
Baca juga: JKN bantu pengobatan anemia wanita muda asal Bogor
Di pertengahan sesi wawancara, Gali sempat menyinggung beberapa cerita yang ia dengar dari mulut ke mulut terkait isu pelayanan kesehatan yang diberikan kepada pasien JKN dengan hak rawat kelas tiga.
Menurutnya isu tersebut tidak sesuai dengan apa yang ia rasakan selama menggunakan Program JKN untuk berobat.
“Kalau istri saya waktu itu untuk persalinan, kalau anak saya sekarang untuk berobat mag yang sudah akut. Program JKN benar-benar memberi perlindungan kesehatan untuk masyarakat. Anak saya dirawat selama empat hari sampai pulih maksimal dan diizinkan dokter untuk pulang. Semuanya dibayarkan, alias gratis. Saya juga pernah dengar isu soal pelayanan kalau pakai Program JKN yang kurang bagus dan rawat inap tidak boleh lebih tiga hari kayaknya tidak sesuai realita dilapangan. Tapi semoga dengan beralihnya saya menjadi peserta mandiri di kelas tiga, pelayanan yang saya dapatkan tetap sama bagusnya. Untuk masyarakat yang belum punya BPJS, saya berpesan untuk segara daftar,” ungkap Galih.
