Padang (ANTARA) - Keputusan Presiden Prabowo membangun Kopdes Merah Putih sebanyak 80.000 gerai tuntas pada bulan Maret mendatang merupakan cita-cita ideal meneruskan ideologi para pendiri bangsa. Namun, tantangan besar mewujudkan hal ini terkendala dengan rendahnya kualitas kepemimpinan dan enterpreneurship pemimpin-pemimpin di desa.
Untuk itu gerakan mahasiswa ke depan perlu memasukkan agenda penguatan koperasi desa itu melalui pendampingan dan transfer pengetahuan. Selain itu mahasiswa harus membangun kembali kekuatan koperasi mahasiswa di kampus-kampus sebagai sasaran antara.
Hal ini disampaikan Syahganda dalam ceramahnya dihadapan 60 pimpinan mahasiswa se Sumatera yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, di Universitas Baiturrahmah, Padang. Acara ini didesain dalam Future Leaders Camp dengan tema “Reforming The Mindset: The Key To Transform Public Policy”
Selanjutnya Syahganda mengingatkan para pemimpin mahasiswa menyambut perubahan paradigma dalam pembangunan yang terjadi di era Prabowo ini. Syahganda menekankan bahwa Prabowo adalah presiden kedua sepanjang sejarah, selain Sukarno, yang meletakkan negara sebagai pembela kaum miskin, ketika berhadapan dengan dominasi oligarki.
Gerakan mahasiswa harus berubah tidak lagi terjebak pada tema-tema elitis seperti Indonesia Gelap dan Indonesia Cemas, melainkan masuk pada arus perubahan paradigma yang dipimpin Prabowo.
“Saatnya mahasiswa ikut membangun desa-desa, seperti Kopdes Merah Putih, sebagai tema perang terhadap dominasi oligarki, khususnya di sektor ritel.”, tutup Syahganda, sambil menyinggung keberhasilan pemuda Zohran Mamdani menjadi walikota New York mengalahkan kekuatan oligarki dunia, bahwa kaum muda punya kekuatan dalam perubahan.
