Ambon (ANTARA) - Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Maluku, menggencarkan edukasi pencegahan dan penyebaran Penyakit Menular Seksual (PMS), terutama HIV/AIDS, pada mahasiswa.
“Kampus memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai bahaya HIV/AIDS, cara mengenali gejala, serta langkah penanggulangannya. Mahasiswa diharapkan menjadi agen perubahan dalam menyebarkan kesadaran tentang pentingnya hidup sehat dan bebas stigma terhadap penyintas HIV/AIDS,” kata Rektor Unpatti Prof Freddy Leiwakabessy di Ambon, Senin.
Ia mengatakan salah satu hal yang dilakukan Unpatti dalam upaya ini yakni berkolaborasi dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Maluku.
Berdasarkan data Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku, kata dia, tingkat penyebaran HIV di Maluku masih menjadi perhatian serius.
“Terdapat kurang lebih 8.231 penduduk positif HIV di wilayah Maluku, dengan tren fluktuatif sejak 2019 hingga 2023. Hal ini menunjukkan perlunya kesadaran bersama untuk hidup berdampingan dengan para penderita HIV, karena mereka juga bagian dari masyarakat kita,” ujarnya.
Baca juga: Universitas Pattimura gandeng perusahaan perdagangan cetak sarjana wirausahawan
Baca juga: Universitas Pattimura raih prestasi debat bidang peternakan tingkat nasional
Oleh sebab itu, kata dia, mahasiswa harus menjadi duta perubahan sosial yang mampu menggerakkan masyarakat dalam memahami dan menerima para penyintas tanpa diskriminasi.
Ia menjelaskan edukasi pencegahan PMS yang diberikan kepada mahasiswa mencakup berbagai aspek penting untuk membangun kesadaran dan perilaku hidup sehat.
Materi yang disampaikan meliputi pemahaman tentang kesehatan reproduksi, cara penularan dan gejala penyakit seperti HIV, sifilis, dan gonore, hingga pentingnya deteksi dini.
Selain itu, lanjutnya, mahasiswa diajak untuk menerapkan perilaku seksual yang bertanggung jawab dengan menunda hubungan seksual, setia pada satu pasangan, serta menggunakan alat pelindung diri seperti kondom dengan benar.
Kegiatan edukatif ini turut mendorong mahasiswa untuk rutin melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi, menghindari penggunaan jarum suntik secara bergantian, dan menjalani gaya hidup bersih dan sehat.
Baca juga: Universitas Pattimura raih juara umum Satria Cendekia VII di Universitas Negeri Jakarta
Tak hanya itu pendekatan pendidikan sebaya juga diterapkan agar pesan-pesan pencegahan dapat disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami dan diterima oleh kalangan muda, sekaligus menumbuhkan sikap saling menghormati terhadap individu yang terinfeksi tanpa stigma maupun diskriminasi.
Ia juga menyoroti pentingnya keseimbangan antara kemampuan akademik dan sosial bagi mahasiswa. Menurutnya, keberhasilan seseorang tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi juga dari kemampuan beradaptasi dan berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
“Tidak ada sekolah untuk menjadi presiden atau menteri, tetapi mereka berhasil karena mampu menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan baik,” katanya.
Ia juga mengajak seluruh sivitas akademika Unpatti untuk terus memberikan dukungan moral dan sosial kepada para penyintas HIV/AIDS.
“Kita harus memberikan motivasi, semangat, dan dukungan, agar mereka merasa berharga dan mampu bangkit kembali,” ucapnya.
