Pangkalpinang (ANTARA) - Pemerintah Kota Pangkalpinang Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menjadikan Hutan Wisata Tua Tunu pusat penelitian tanaman endemik di Pulau Bangka, sebagai langkah melestarikan tanaman khas daerah itu.
"Hingga saat ini sudah banyak peneliti dari akademisi dan mahasiswa melakukan penelitian di Hutan Wisata Tua Tunu ini," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pangkalpinang Bartholomeus Suharto di Pangkalpinang, Sabtu.
Ia mengatakan Hutan Wisata Tua Tunu Kota Pangkalpinang ini memiliki luas 60,8 hektare dan ditumbuhi berbagai tanaman endemik Pulau Bangka Belitung seperti pohon pelawan, seruk, puspa, anggrek dan tanaman khas daerah lainnya.
Baca juga: Pelindo Pangkalbalam Babel tanam ratusan pohon tabebuya di Hutan Wisata Tua Tunu
Selain itu, Hutan Wisata Tua Tunu ini juga ditanami tanaman spontan seperti pohon durian, cempedak dan pohon peneduh lainnya untuk memperkaya jenis tanaman di daerah ini.
"Saat ini peneliti sedang melakukan penelitian manggis klabang yang sudah hampir punah," katanya.
Ia menyatakan tanaman manggis klabang dengan nama ilmiah Garcinia klabang miq ini sudah ratusan tahun tidak lagi ditemukan oleh peneliti dan dinyatakan sudah punah di berbagai wilayah di Indonesia.
"Penemuan tanaman langka ini tentunya diteliti lagi, guna memastikan bahwa tanaman endemik Pulau Bangka ini betul-betul manggis klabang," katanya.
Baca juga: Wisata Hutan Nyaru Menteng Palangka Raya ramai dikunjungi wisatawan pada libur Idul Adha
Ia berharap dengan dijadikannya Hutan Wisata Tua Tunu sebagai pusat penelitian dapat melestarikan tanaman-tanaman endemik yang tumbuh di kawasan hutan ini.
"Ini sesuai fungsi hutan wisata sebagai tempat edukasi, wisata dan penelitian para peneliti serta masyarakat di daerah ini," katanya.
