Samarinda (ANTARA) - Tiga komponen pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Kalimantan Timur (Kaltim) yakni edukasi, teaching factory, dan inovasi, dinilai berdampak signifikan terhadap peningkatan serapan tenaga kerja lulusan di provinsi itu.
"Lulusan SMK Kaltim di tahun 2025 itu (tingkat pengangguran terbuka) sudah menurun di angka 6,77 persen," kata Kepala Bidang SMK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Diskdikbud) Kaltim Surasa di Samarinda, Kamis.
Pada kegiatan Transformasi Tata Kelola SMK yang dihadiri kepala SMK se-Kaltim, ia menyebut angka tersebut merupakan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) paling rendah sepanjang sejarah SMK di Kaltim.
Ia mengatakan capaian ini patut diapresiasi sebagai bagian dari kinerja vokasi seluruh pemangku kepentingan di Kaltim, mulai dari pemerintah provinsi, dunia usaha industri, hingga pihak sekolah.
Surasa menjelaskan pendidikan vokasi kini didorong menjadi replika industri yang menjalankan empat fungsi utama, yakni produk, Sumber Daya Manusia (SDM), keuangan, dan pemasaran. Implementasi Teaching Factory (TFA) di sekolah menjadi bagian dari pengembangan produk.
"Bagaimana bapak ibu guru yang sudah di-reskilling, upskilling, termasuk juga peserta didik itu menjadi bagian dari sumber daya manusia," ujarnya.
Sementara untuk aspek keuangan, ia mencontohkan Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Provinsi dapat dijadikan modal untuk membiayai model pembelajaran TFA.
Komponen penting lainnya, kata dia, adalah inovasi dalam fungsi pemasaran yang dijalankan oleh Bursa Kerja Khusus (BKK) di setiap sekolah. Saat ini tercatat sudah ada 160-an SMK di Kaltim yang memiliki BKK dan terdaftar di Dinas Tenaga Kerja (Disnaker).
BKK diminta mampu membuat digitalisasi portofolio atas mikro kredensial peserta didik, sehingga bisa dipasarkan kepada industri pasangan. "Ini mungkin salah satu jadi indikator untuk peningkatan serapan kerja," tegasnya.
Terkait inovasi produk, ia mengapresiasi prototipe mobil listrik yang dicontohkan oleh SMK Negeri 10 Samarinda. "Bagaimana mobil listrik itu bisa menjadi prototipe untuk bisa dikembangkan," ucapnya.
Prototipe ini dinilai sebagai kontribusi SMK dalam mendukung Kaltim sebagai satu dari tiga provinsi piloting pekerjaan hijau (green jobs) yang ditetapkan Bappenas.
Menurutnya, inovasi ini sejalan dengan kebijakan energi terbarukan baik di tingkat nasional maupun daerah.
Ia juga menyoroti inovasi tidak harus selalu mobil listrik, tetapi bisa dikembangkan pada produk-produk lainnya dimulai dari alat-alat pertanian sederhana.
