Majalengka (ANTARA) - Desa Bantaragung di Majalengka, Jawa Barat, membuktikan kalau tradisi tak perlu ditinggalkan demi kemajuan. Justru kedua hal itu dapat dipadukan untuk mendenyutkan ekonomi warga sekitar secara berkelanjutan.
Di tengah lanskap area persawahan yang hijau, seorang penari topeng tampil memukau. Gerakannya tegas namun lentur, diiringi irama musik tradisional yang berpadu dengan desau angin dari perbukitan.
Di sisi panggung kecil, beberapa penari lain menunggu giliran sambil berbincang santai, sementara penonton menikmati suasana hangat sore yang sarat budaya.
Tak jauh dari sana, ada dua perempuan duduk di bawah atap jerami yang tengah sibuk melayani pembeli. Wajah mereka sumringah dan jemarinya cekatan, mencatat pesanan sambil berbagi cerita ringan.
Aroma teh hangat dan jajanan kampung tercium samar, menghadirkan nuansa desa yang ramah serta bersahaja.
Suasana makin hidup di area kuliner tradisional. Aneka penganan tersaji di atas daun pisang seperti lemper, bugis, klepon, hingga onde-onde yang menggoda selera.
Sejumput senyum para pedagang di destinasi ini, menjadi sambutan terbaik bagi siapa pun yang ingin merasakan nikmatnya jajanan masa kecil itu.
Bantaragung telah berkembang menjadi desa wisata, dengan ekosistem ekonomi yang melibatkan banyak unsur masyarakat.
Seluruh kegiatan di kawasan ini dikelola bersama oleh kelompok sadar wisata (pokdarwis), pelaku usaha, petani, dan pemerintah desa, dengan dukungan dari Bank Indonesia Jawa Barat (BI Jabar).
Magnet utama di desa wisata ini adalah gelaran Pasar Bumi Pakuwon, yang merupakan agenda bulanan yang sudah berjalan sejak Oktober 2024.
Atmosfer di Pasar Bumi Pakuwon memang berbeda. Unsur kearifan lokalnya begitu kental terasa. Hawanya makin sarat makna saat dipentaskannya berbagai atraksi budaya.
Seni tari topeng kelana tadi misalnya, mendapat sambutan hangat dari pengunjung yang sebagian berdecak kagum usai menontonnya.
“Kegiatan seperti ini yang kami cari. Tempat wisata yang masih asri, diselingi pertunjukan seni yang bisa dijadikan sarana edukasi mengenal tradisi,” kata Andi (38) bersama istrinya, Rani (34), kepada ANTARA.
Wisatawan asal Cirebon ini berkelakar, kini cukup sukar menemukan tempat wisata dengan konsep semacam ini. Di satu tempat banyak ragam hal yang bisa dijajal.
Andi kemudian membuka layar gawainya, menekan ikon aplikasi peramban dan jemarinya berselancar untuk mencari sekelumit informasi tentang topeng kelana.
“Maknanya dalam juga rupanya, kata Google, topeng kelana disimbolkan atau penggambaran kekuatan untuk mengendalikan amarah,” tutur Andi.
Ia menilai kegiatan seperti Pasar Bumi Pakuwon, dapat menjadi sarana untuk menghubungkan generasi tua dan muda, agar merasa bangga terhadap kekayaan budaya.
Pokdarwis setempat sengaja menampilkan pentas seni dari berbagai sanggar dari Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) setiap bulan.
Hal ini dimaksudkan agar pengunjung tidak bosan, sekaligus membuka ruang bagi seniman lokal untuk tampil.
Di tengah keramaian pasar, Ilah, penjual serabi asal Bantaragung, tampak sibuk memanggang adonan di atas tungku tanah liat.
Setiap kali acara bulanan ini digelar, ia membawa 10 kg beras sebagai bahan utama. Dalam sehari, hasil penjualannya bisa mencapai Rp600 ribu hingga Rp700 ribu, angka yang jauh lebih besar ketimbang berjualan di rumah.
Ilah amat bersyukur. Sebab, Pasar Bumi Pakuwon menjadi ruang baru untuk mempertemukan dagangannya dengan pembeli dari luar daerah.
“Kalau di rumah (untuk jualan serabi) paling menyiapkan 2 kg beras. Di sini lebih ramai,” katanya pelan, tangannya tak berhenti mengipasi api.
Pada lapak lain, Anah yang menjual lotek dan keripik, telah ikut berpartisipasi dalam 11 kali penyelenggaraan pasar ini.
Saban bulan, ia menyiapkan 50 porsi makanan untuk dijual di acara ini, dengan penghasilan rata-rata sekitar Rp500 ribu.
Wawan Hermawanto, Pengelola Pasar Bumi Pakuwon, menyebutkan pasar ini melibatkan pelaku UMKM setempat, termasuk para pedagang keliling yang kini memiliki representasi tetap di lokasi.
Menurutnya, pasar ini digelar rutin setiap bulan, tepatnya pada Sabtu di pekan kedua atau ketiga, agar masyarakat luas yang sedang libur kerja bisa datang.
Antusiasme pengunjung terbilang stabil, dengan rata-rata 1.000 sampai 3.000 orang hadir setiap gelaran.
Mereka kebanyakan turis lokal asal Ciayumajakuning. Namun pelancong dari luar Jawa Barat pun sering singgah ke acara ini.
Wawan mengungkapkan pokdarwis bersama pemerintah desa setempat menciptakan mata uang simbolis yakni benggol, yang terinspirasi dari sejarah lokal. Setiap kepingnya bernilai Rp5.000.
Tujuannya untuk memperkuat identitas sekaligus mendorong tumbuhnya inklusi keuangan digital, sesuai program yang terus digencarkan oleh BI Jabar melalui Kantor Perwakilan (KPw) Cirebon.
Dalam praktiknya, pengunjung dapat menukar keping benggol dengan bertransaksi melalui QRIS atau standar kode QR nasional.
Dengan kepingan kayu itu, kata dia, pengunjung bisa membeli ragam kuliner dan olahan khas yang tersedia dalam Pasar Bumi Pakuwon.
Setelahnya, pedagang menyerahkan benggol ke panitia untuk ditukarkan kembali dengan saldo digital masing-masing.
Sistem ini menjadi cara kreatif warga memperkenalkan digitalisasi keuangan, tanpa menghapus sentuhan tradisional.
Supaya pengunjung tidak merasa bosan, pengelola rutin melakukan evaluasi dan variasi acara setiap bulan. Beberapa kegiatan dirancang juga agar masyarakat terbiasa bertransaksi secara digital.
“Sejak pertama kali digelar, pasar ini telah menjadi andalan ekonomi warga sekaligus daya tarik wisata yang konsisten,” tutur Wawan.
Inovasi kecil ini, secara tidak langsung memasifkan penggunaan QRIS di Ciayumajakuning yang telah mencapai 50,9 juta transaksi secara agregat dan nilainya tembus Rp5,5 triliun hingga Agustus 2025.
Bahkan secara nasional, pengguna QRIS sudah mencapai 57,6 juta orang. Aktivitas di Desa Bantaragung ikut menyumbang bagian kecilnya, dengan caranya sendiri.
