Jakarta (ANTARA) - Industri film Indonesia kembali menghadirkan karya yang diproduksi di luar negeri lewat film drama romansa-religi "Pengin Hijrah" yang siap menyapa penonton mulai 30 Oktober 2025.
Sebelumnya ada drama romansa "Eiffel... I'm in Love (2003) yang diproduksi di Paris, serta "Sore: Istri Dari Masa Depan" (2025) di Kroasia dan Finlandia.
"Pengin Hijrah" adalah karya kolaborasi antara Sinemata Pictures dan Multi Buana Kreasindo (MBK) Production yang disutradarai oleh Jastis Arimba. Film ini mencoba memvisualisasikan perjalanan spiritual dan romansa dengan latar tempat yang eksotis di Indonesia dan Uzbekistan.
Tim produksi film "Pengin Hijrah" menampakkan ambisi tinggi untuk menjadi salah satu tonggak penting bagi industri film nasional.
Keberhasilan mereka untuk memproduksi film dengan fokus pada lokasi-lokasi bersejarah Islam di Asia Tengah membuktikan bahwa sineas Indonesia memiliki kapasitas dan tidak canggung dengan batasan geografis maupun budaya.
Pencapaian itu diakui dan dipuji langsung oleh Temur Mirzaev, aktor sekaligus Advisor Menteri Pariwisata Uzbekistan.
Temur melihat film ini sebagai "kendaraan" promosi yang efektif untuk negaranya, sebuah pernyataan yang menunjukkan kepercayaan tinggi terhadap kualitas produksi yang dihasilkan oleh sineas Indonesia.
Jalan Cerita
Cerita film "Pengin Hijrah" berangkat dari fiksi yang diadaptasi dari novel berjudul sama karya Hengki Kumayandi.
Kisahnya berpusat pada Alina Saraswati (diperankan oleh Steffi Zamora) dalam upaya perubahannya menuju kebaikan (hijrah).
Alina adalah seorang selebgram yang di mata publik media sosial terlihat hidup megah dan bahagia. Namun, citra itu hanyalah topeng. Di balik kemegahan itu, Alina menghadapi tiga kesulitan besar yang menghancurkan dirinya: skandal yang muncul akibat foto-foto unggahan seksi, tumpukan utang orang tua, dan pukulan terberat berupa jatuh sakitnya sahabat karibnya, Ulfa. Terpuruk dalam kebingungan, Alina merasa hidupnya seperti kehilangan pegangan.
Titik baliknya datang saat ia bertemu dengan Omar (Endy Arfian), seorang mahasiswa Indonesia yang digambarkan sebagai sosok "green flag" berciri-ciri tulus, sabar, dan memiliki pemikiran bijaksana.
Omar membawa Alina menuju ketenangan dan kesadaran dalam menyikapi setiap pergolakan. Hubungan mereka pun berlandaskan niat yang sama, yaitu untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Proses perubahan Alina tidaklah mudah. Perjalanannya diuji oleh Joe (Daffa Wardhana), mantan pacar Alina, yang mewakili "circle" lama yang penuh masalah.
Konflik antara masa lalu (Joe) dan masa depan (Omar) merefleksikan kesulitan banyak anak muda saat ini untuk meninggalkan lingkungan lama saat berupaya menjadi lebih baik.
Beruntung, kehadiran Nadzira Shafa sebagai Aisyah, sahabat lain yang mendukung perjuangan Alina, berhasil menekankan pentingnya "support system" yang positif dalam proses hijrah mereka.
Baca juga: Kisah emosional di balik lagu "Arah Bersamamu" Nadzira Shafa
Baca juga: Film "Pengin Hijrah" jembatani potensi kerja sama wisata Belitung-Uzbekistan
