Jakarta (ANTARA) - Sebagai negara yang memiliki risiko bencana yang tinggi, kewaspadaan wajib dimiliki oleh seluruh pemangku kepentingan di Indonesia termasuk potensi bencana di kawasan industri.
Mayoritas proyek strategis nasional di Indonesia berada di wilayah rawan bencana, termasuk wilayah pesisir dan sesar aktif, sehingga memerlukan strategi mitigasi dan adaptasi yang tepat, seperti pengintegrasian risiko ke dalam tata ruang, pengembangan sistem peringatan dini, dan pembangunan infrastruktur tahan bencana.
Seluruh pihak juga harus dapat mematuhi aturan terkait seperti Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang yang menekankan pentingnya tata ruang berkelanjutan berbasis risiko bencana.
Model kesiapsiagaan bencana dapat dilihat pada 2 kawasan industri strategis di Kota Cilegon, Provinsi Banten dan Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Kedua kawasan industri tersebut berperan strategis secara nasional dengan berbagai obyek vital negara yang ada.
Kota Cilegon merupakan kawasan strategis yang terletak di ujung barat Pulau Jawa dan menjadi penghubung Jawa-Sumatera. Lalu lintas manusia dan perdagangan Jawa-Sumatera sangat tergantung dari Pelabuhan Merak di Kota Cilegon dan Bakaheuni di Kabupaten Lampung Selatan.
Laporan Mitigasi Bahaya Kegempaan dan Tsunami Kawasan Industri Cilegon dari BMKG tahun 2022 menyebutkan potensi sumber gempa megathrust dengan magnitude 8,7.
Apabila skenario terburuk terjadi, kawasan Cilegon akan terdampak dengan tingkat intensitas guncangan VI-VII (sedang-kuat) dan berakibat kerusakan yang sangat serius.
Sementara itu, kawasan industri strategis di Kabupaten Gresik meliputi dua kawasan utama yaitu Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) dan PT Kawasan Industri Gresik (KIG). JIIPE adalah kawasan ekonomi khusus (KEK) terintegrasi yang dilengkapi pelabuhan dan jalur logistik, berfokus pada industri manufaktur dan pengolahan.
KIG adalah kawasan industri yang menyediakan lahan dan fasilitas bagi berbagai jenis usaha manufaktur, dengan lokasi yang strategis terletak di jantung kota Gresik.
Risiko bencana utama di Gresik meliputi banjir, erosi, abrasi, kebakaran, dan gempa bumi yang disebabkan oleh karakteristik topografi di wilayah tersebut.
Mitigasi bencana
Kewaspadaan tingkat tinggi wajib dimiliki oleh seluruh pihak khususnya Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Diperlukan langkah-langkah mitigasi bencana yang terintegrasi untuk dapat mengantisipasi bencana di kawasan strategis tersebut.
Pertama, perlunya updating pemetaan potensi bahaya ikutan berupa potensi kegagalan teknologi di kawasan. Kerja sama lintas Kementerian/Lembaga (K/L) seperti jumlah penduduk, jumlah industri dan fasilitas kritis serta perubahan tutupan lahan.
Kedua, Pemerintah Daerah perlu cepat tanggap dalam membangun kapasitas (capacity) seluruh pemangku kepentingan. Koordinasi dan komunikasi dengan Pemerintah Pusat harus secara intensif dilakukan.
Ketiga, Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah perlu menyusun dokumen perencanaan penanggulangan bencana terkait yang melibatkan multi pihak termasuk industri barang, jasa, sekolah, rumah sakit, pemadam kebakaran, pariwisata dan lainnya.
Keempat, Pemerintah perlu membangun/memperkuat sistem mitigasi gempa bumi dan tsunami melalui berbagai upaya seperti penyiapan sarana evakuasi (sirine, jalur, rambu, tempat evakuasi), command center, serta edukasi dan latihan rutin untuk seluruh masyarakat di kawasan industri strategis tersebut.
Kelima, Menyiapkan sarana akses langsung peringatan dini bencana serta penyebarluasan informasi kewaspadaan bencana secara cepat kepada seluruh pihak termasuk masyarakat (Notohamijoyo: 2022).
Tanpa upaya mitigasi yang berkesinambungan, dampak serius bencana tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar kawasan namun juga perekonomian nasional.
*) Penulis adalah Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan.
Baca juga: Kabupaten Bekasi serukan warga waspada bencana hidrometeorologi
Baca juga: Hutan lindung jangan dirambah cegah bencana alam
