Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi memacu pemenuhan dan distribusi dokter spesialis/subspesialis di tiap wilayah melalui Sistem Kesehatan Akademik (SKA), untuk memastikan layanan kesehatan yang lebih merata dan berkualitas di seluruh daerah.
Salah satu tindak lanjut yang dilakukan adalah implementasi rencana aksi penguatan SKA wilayah I (khususnya Aceh) yang dilaksanakan dalam forum kolaborasi di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh (5/9).
"Presiden RI menekankan pentingnya ketersediaan dokter spesialis dan subspesialis sebagai bagian dari pembangunan nasional. Sistem Kesehatan Akademik hadir sebagai model kemitraan strategis untuk memperkuat kemandirian wilayah dalam pemenuhan tenaga medis melalui ekosistem yang saling mendukung," kata Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kemdiktisaintek Khairul Munadi melalui keterangan di Jakarta, Sabtu.
Khairul mengatakan program akselerasi ini merupakan tindak lanjut dari inisiatif Diktisaintek Berdampak di bidang kesehatan.
Ia mengungkapkan program ini dijalankan melalui tiga strategi utama: (1) pembukaan program studi baru serta peningkatan kuota mahasiswa, (2) penempatan residen senior di rumah sakit prioritas, dan (3) penguatan kemitraan dengan kementerian/lembaga di tingkat pusat maupun daerah.
Khairul mengungkapkan Kemdiktisaintek telah menyiapkan dukungan kebijakan komprehensif, termasuk percepatan penyusunan regulasi quick wins mengenai persyaratan, prosedur, dan mekanisme pendirian program studi, baik melalui skema konsorsium maupun rekognisi pembelajaran lampau bagi staf pendidik dokter spesialis dan subspesialis.
"Harapan kami adalah terwujudnya pendidikan medis yang unggul, bermartabat, dan memberi dampak luas," ucap Khairul Munadi.
