Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, memastikan inflasi tetap terkendali meski dibayangi kondisi suhu politik yang tengah memanas, yang ditandai dengan harga bahan pokok relatif stabil di sejumlah pasar, bahkan ada yang tetap di bawah harga eceran tertinggi (HET).
Kepala Bidang Pengendalian Barang Pokok dan Penting pada Dinas Perdagangan Kabupaten Bekasi Helmi Yenti menyatakan kondisi harga kebutuhan pokok di pasaran stabil dan kondisi politik yang memanas tidak berimbas pada kenaikan harga atau terjadinya inflasi tinggi di daerah.
"Secara umum, untuk inflasi tidak berdampak ya. Khusus untuk kabupaten Bekasi, alhamdulillah kan kondusif ya. Inflasi di kita itu terkendali," katanya di Cikarang, Rabu.
Dia mengatakan dalam sepekan terakhir, Indeks Perkembangan Harga (IPH) di Kabupaten Bekasi berada di angka minus 1,58, yang artinya tidak terjadi kenaikan harga yang berarti hingga menyebabkan inflasi.
Baca juga: Pemkab Bekasi meluncurkan Gerakan Pangan Murah jaga stabilitas pangan
"Kalau inflasi itu kan koreksi nasional itu IPH-nya plus 2,5 sampai minus 1 untuk tahunannya. Jadi kalau sudah di atas 2,5 berarti itu sudah inflasi, di bawah itu berarti deflasi. Untuk mingguan di kita kan masih minus 1,58. Ini terkoreksi sama ruang pusat atau Kemendagri ini masih di taraf stabil dan aman," katanya.
Menurut dia, stabilitas harga didukung juga dengan situasi yang kondusif. Selain itu tidak ada hambatan dalam proses distribusi yang berpengaruh pada ketersediaan barang di pasar.
"Pemantauan yang ada di pasar kondisinya stok barang aman dan harga itu rata-rata masih di bawah harga HET semua. Pasokan juga aman karena kebanyakan barang berasal dari Jawa sehingga tidak melintasi Jakarta," katanya.
Helmi mengaku kekhawatiran tetap dirasakan pedagang, namun bukan hanya dari situasi politik. Lebih dari itu, kondisi cuaca yang tidak menentu sangat mempengaruhi ketersediaan barang di pasar, terutama produk pertanian, terlebih 85 persen produk yang dijual di Kabupaten Bekasi berasal dari daerah lain.
Baca juga: Polres Metro Bekasi sediakan sembako murah untuk warga
"Seperti cabai merah yang tidak dihasilkan di Bekasi. Kami mendatangkan dari daerah tetangga. Saat ini sudah musim kemarau, tidak tahu ke depan seperti apa. Yang jelas jika ada yang terjadi, otomatis daerah produsen lebih mengutamakan ketersediaan di daerahnya sebelum dipasok ke daerah lain. Tapi kini kondisi masih terkendali," ucap dia.
Diketahui harga sejumlah kebutuhan pokok masih terpantau stabil. Di Pasar Tambun, harga cabai merah besar yang kerap mengalami fluktuasi justru lebih terkendali yakni Rp40.000 per kilogram.
Begitu juga dengan minyak goreng yang masih dijual dengan harga Rp19.000 per liter dan telur ayam ras Rp28.000 per kilogram. Di sisi lain, cabai rawit justru turun dari semula Rp40.000 menjadi Rp35.000.
Kondisi serupa terjadi di Pasar Lemahabang dan Kedunggede. Harga cabai merah justru turun dari Rp40.000 menjadi Rp36.000 per kilogram. Lalu telur ayam ras menjadi Rp26.000 dari semula Rp27.000 per kilogram.
Baca juga: Bulog alokasikan dua ton beras setiap pekan untuk kendalikan inflasi Bekasi
Komoditas utama lain juga cenderung stabil. Beras dengan kualitas medium dijual seharga Rp10.500-12.500 per kilogram di Pasar Lemahabang dan Kedunggede. Sedangkan kualitas premium dengan cap IR42 senilai Rp13.000 per kilogram.
Di Pasar Babelan, harga beras lebih tinggi yakni Rp15.000 untuk kualitas premium dengan cap IR64 dan Rp10.000 per kilogram untuk IR64 II kualitas medium.
"Ya kan ada khawatir memang, kirain harga bakal naik karena biasanya kalau ramai demo harga suka naik. Barusan beli beras, masih sama harganya enggak naik," ucap salah seorang warga Tri (35).
Pewarta: Pradita Kurniawan SyahUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.