Bandung (ANTARA) - Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Wamenpora RI) Taufik Hidayat menyampaikan duka mendalam atas wafatnya legenda bulu tangkis Indonesia, Iie Sumirat.
Taufik mengaku tidak akan bisa mencapai puncak kariernya tanpa peran besar sosok pelatih yang telah membentuknya sejak kecil.
“Tanpa beliau saya tidak akan bisa sampai ke titik ini. Dari umur 9 tahun saya mulai latihan sama beliau sampai umur 14 tahun. Diajarin dasar-dasar bulu tangkis seperti apa, dan beliau juga menjadi salah satu panutan bulu tangkis tanah air,” kata Taufik di Bandung, Rabu.
Iie Sumirat lahir di Bandung pada 15 November 1950 dan dikenal sebagai tokoh yang pertama kali menemukan bakat Taufik Hidayat di kampung halamannya, Pangalengan, Kabupaten Bandung.
Baca juga: PBSI akan evaluasi hasil bulutangkis Indonesia dari Piala Sudirman 2025
Baca juga: Wamenpora Taufik Hidayat inginkan lapangan padel tersedia merata di berbagai kota
Sejak saat itu, Iie Sumirat menjadi pembimbing awal perjalanan Taufik hingga menjadi juara dunia dan peraih medali emas Olimpiade.
“Yang nemuin saya, yang lahirin saya ya beliau ini. Dan buat saya sangat kehilangan sekali. Dari kemarin memang sudah niat ke Bandung saat beliau sakit, tapi belum sempat. Tadi dikabarin, saya langsung ke sini,” ujar Taufik.
Di mata Taufik, almarhum bukan hanya pelatih, tetapi sudah dianggap seperti orang tua sendiri karena kedekatan yang terjalin sejak kecil.
“Beliau sudah saya anggap seperti orang tua sendiri. Karena waktu kecil kalau tidak latihan, saya tidur di rumahnya. Sampai sekarang rumah sama lapangannya masih ada dan masih bersebelahan,” kata dia.
Baca juga: Taufik Hidayat mundur dari PBSI karena merasa hanya jadi pajangan
Iie Sumirat merupakan salah satu pilar kejayaan bulu tangkis Indonesia pada era 1970-an. Ia dikenal luas atas kontribusinya dalam mengantarkan tim Indonesia merebut berbagai gelar bergengsi di level internasional, termasuk Piala Thomas.
Pada edisi 1976, Iie menjadi bagian dari skuad Merah Putih yang sukses menjuarai Thomas Cup. Empat tahun berselang, ia kembali dipercaya memperkuat tim nasional sebagai tunggal utama dan membawa Indonesia kembali menjuarai turnamen beregu paling prestisius di dunia itu pada 1979.
Selain prestasi beregu, Iie juga mencetak pencapaian penting di nomor perorangan. Ia meraih medali perunggu pada Kejuaraan Dunia 1977, yang merupakan edisi perdana dari ajang tersebut.
Pewarta: Rubby Jovan PrimanandaUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026