Jakarta (ANTARA) - Setelah meninggalkan Turki, kami melintasi tiga negara utama di Asia Tengah—Uzbekistan, Tajikistan, dan Kazakhstan. Ketiga negara ini merupakan bagian dari bentangan historis Jalur Sutra yang menghubungkan Tiongkok dan Eropa sejak abad ke-2 SM hingga abad ke-15. Meski tak lagi menjadi arteri utama perdagangan global, Jalur Sutra tetap hidup sebagai lintasan budaya, spiritualitas, dan pembelajaran global.
Uzbekistan: Peradaban di Tengah Gurun
“Kunjungan pertama kami adalah ke Uzbekistan—negara dengan warisan Islam yang kuat dan jejak sejarah yang tak ternilai. Di Tashkent, kami menjumpai ibu kota yang tenang dan modern. Sementara itu, Samarkand membawa kami mundur ke masa kejayaan Jalur Sutra, dengan bangunan berarsitektur Timurid seperti Registan Square yang megah. Di sinilah kami menyadari bahwa pengalaman lintas negara seperti ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan juga perjalanan lintas waktu dan peradaban” ujar Sora Algamar siswa IDN Boarding School cabang Solo.
Sekitar 90 persen populasi Uzbekistan memeluk Islam, dan hal ini sangat terlihat dari budaya sehari-hari hingga situs-situs keagamaan.
Salah satu yang paling berkesan adalah ziarah ke kompleks pemakaman Imam Bukhari, tokoh ulama hadist paling berpengaruh dalam sejarah Islam. Hal ini memberikan pelajaran spiritual dan historis bagi para peserta dimensi penting dari pembelajaran lintas budaya.
Menurut Stone & Petrick (2013) dan Falk et al. (2012), perjalanan internasional dapat memperkaya keterampilan generik remaja, memperkuat kesadaran antarbudaya, serta mendukung pertumbuhan pribadi dan pembelajaran informal. Samarkand menjadi konteks belajar yang hidup untuk itu semua.
Tajikistan: Dataran Gersang yang Menenangkan
“Kota Khujand di Tajikistan menjadi persinggahan kami berikutnya. Meskipun hanya satu hari, kesan yang kami dapatkan kuat. Pegunungan Fann yang membentang dengan angkuhnya di balik horizon memperlihatkan lanskap Asia Tengah yang masih liar namun menenangkan. Keheningan Tajikistan membawa kami pada pengalaman kontemplatif—sebuah slow travel yang justru memperkuat dimensi reflektif dari perjalanan ini” ujar Sora yang aktif menjadi guru tamu tentang digital awareness di panti-panti asuhan.
Seperti dijelaskan dalam Li et al. (2020), pengalaman perjalanan yang mendalam dan personal dapat memperkuat keterhubungan sosial dan pengembangan kognitif siswa, terutama dalam konteks lintas budaya yang berbeda dari keseharian mereka.
Kazakhstan: Modernitas dan Patriotisme
“Perjalanan kami berakhir di Kazakhstan, tepatnya di Kota Almaty—kota modern yang dulunya ibu kota negara ini. Kami tinggal di hostel internasional, berbaur dengan backpacker dari berbagai negara. Salah satu momen paling mengesankan adalah ketika kami mengikuti peringatan Victory Day, yang memperingati kemenangan atas Nazi Jerman. Kami menyaksikan generasi muda Kazakhstan mengenakan pakaian semi-militer dengan penuh rasa hormat—simbol patriotisme yang kuat” imbuh Sora, co-founder Jejak Baik, yang sudah menggalang lebih dari 50 relawan untuk aktivitas sosial.
Menurut penelitian Carr (2011) dan Coetzee & Bester (2009), perjalanan lintas negara dapat memperkuat kesadaran sejarah dan identitas diri remaja. Keterlibatan dalam momen-momen nasional semacam ini menumbuhkan rasa hormat dan tanggung jawab global kepada kami yang masih muda.
Jalur Sutra bukan sekadar jalur dagang kuno, melainkan jalur pembelajaran dan transisi. Dalam studi Falk & Dierking (2010), disebutkan bahwa free-choice learning—pembelajaran berbasis pengalaman di luar kelas—adalah cara yang efektif untuk menanamkan pengetahuan, empati, dan keterampilan global. Program IDN Backpacker secara nyata mempraktikkan hal ini.
Dengan menyusuri Uzbekistan yang spiritual, Tajikistan yang tenang, dan Kazakhstan yang penuh semangat nasionalisme, para siswa tidak hanya belajar tentang geografi dan sejarah, tetapi juga tentang keberagaman manusia dan pentingnya keterbukaan pikiran dalam menghadapi dunia yang kompleks.
Sebagaimana disimpulkan oleh Li et al. (2020) dalam jurnal Tourism Management Perspectives, perjalanan semacam ini membentuk karakter generasi muda secara holistik—memperkuat logika, empati, ketahanan, dan kemampuan adaptif. Pendidikan masa depan tidak bisa lagi hanya dibatasi pada kelas. Dunia adalah ruang belajar yang sesungguhnya.
IDN Backpacker adalah salah satu program unggulan dari IDN Boarding School yang bertujuan untuk mendidik para siswa menjadi manusia tangguh dan adaptif dengan cara menjelajahi puluhan negara dengan biaya seminimal mungkin. Sejak dimulai pada tahun 2023, program ini telah tumbuh pesat—dari dua negara awal, berkembang menjadi sepuluh negara pada 2024, dan sebelas negara pada tahun 2025. Perjalanan selama enam bulan ini dimulai dari India dan berakhir di Malaysia, melintasi jalur budaya dan peradaban dari Asia Selatan, Timur Tengah, Asia Tengah, hingga Asia Tenggara.
Pewarta: AntaraEditor : Feru Lantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.