Jakarta (ANTARA) - Program IDN Backpacker, inisiatif unggulan dari IDN Boarding School, kembali mencetak tonggak baru dalam pendidikan global berbasis pengalaman.
Melalui perjalanan lintas 11 negara dalam 6 bulan, kami, para siswa tidak hanya mengasah ketahanan fisik dan mental, tetapi juga berkesempatan mengkaji langsung sistem transportasi canggih yang menjadi tulang punggung kota-kota dunia. Salah satunya: Istanbul, Turki.
“Sebagai kota megapolitan dengan 16 juta penduduk dan lebih dari 20 juta wisatawan tahun 2024 lalu, Istanbul menjadi laboratorium hidup bagi siswa IDN dalam memahami peran transportasi publik terintegrasi dalam menciptakan kota yang berdaya tahan dan layak huni. Di kota inilah kami mengalami langsung efisiensi transportasi multimoda dari metro, tram, funicular, ferry, hingga kereta bawah laut hanya dengan satu kartu, satu sistem, dan satu pengalaman: kebebasan bermobilitas” ujar Sora Algamar, yang pernah memberikan materi tentang AI di Lembaga Pemasyarakatan Depok.
Menurut studi Samast (2023), integrasi moda transportasi di Istanbul secara langsung menurunkan kemacetan dan polusi, sekaligus meningkatkan kenyamanan warga dan daya saing kota.
Hal ini sejalan dengan temuan Byk (2017) bahwa masa depan kota berkelanjutan di Turki bergantung pada visi 2035 yang menekankan pada mobilitas aktif (berjalan kaki, bersepeda) dan transportasi publik.
“Di Istanbul, kami belajar bahwa transportasi bukan hanya soal kendaraan, tetapi tentang bagaimana manusia diperlakukan sebagai pusat peradaban,” ujar Sora Algamar salah satu peserta IDN Backpacker dari cabang Solo.
“Kami bisa menjelajahi Asia dan Eropa dalam satu hari, hanya dengan berpindah ferry di Selat Bosphorus. Ini bukan liburan, ini kuliah lapangan tentang masa depan kota.”
Program IDN Backpacker telah berjalan sejak 2023, dan terus bertumbuh: dari 2 negara (2023), 10 negara (2024), hingga 11 negara (2025).
Pendekatannya low-cost, high-impact, dimana “Bumi adalah ruang kelas terbaik, dan dunia adalah bukunya,” imbuh Sora, co-founder Komunitas Sosial Kemanusiaan, JejakBaik.
“Melalui pengalaman di Istanbul, kami tidak hanya menyaksikan transformasi kota, tapi juga menanamkan visi untuk membawa perubahan di tanah air. Kami belajar, mencatat, dan bermimpi — bahwa suatu saat, kota-kota di tanah air dapat memiliki sistem transportasi yang menghargai waktu, ruang, dan kemanusiaan warganya” tutup Sora, yang pernah mengajar bahasa inggris di Sangkhom Islam Wittaya School, Thailand.
Baca juga: Dekonstruksi Tiongkok: Dari "Doktrin" ke Realitas
Baca juga: Berburu Damai di Mekkah dan Madinah: Temuan mengejutkan dari seorang Backpacker Indonesia
Pewarta: Feru LantaraEditor : Budi Setiawanto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.