Moskow (ANTARA) - Komisaris Tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hak Asasi Manusia (OHCHR) pada Jumat (18/7) mengonfirmasi adanya kasus-kasus eksekusi, penculikan, perusakan properti pribadi serta penjarahan rumah-rumah yang terjadi di Suwayda, Suriah.

"Berbagai laporan kredibel yang telah diterima oleh Kantor Hak Asasi Manusia PBB mengindikasikan adanya pelanggaran dan perlakuan kejam, seperti eksekusi dan pembunuhan sewenang-wenang, penculikan, perusakan properti pribadi serta penjarahan rumah," kata OHCHR melalui pernyataan.

Menurut dia, para pelaku yang dilaporkan termasuk sekumpulan anggota pasukan keamanan dan individu-individu yang bersengkokol dengan otoritas sementara serta elemen bersenjata lainnya dari daerah tersebut seperti kelompok Druze dan Bedouins.

Baca juga: Suriah siap bekerja sama dengan PBB jika Israel menarik diri dari dari Golan
Baca juga: PBB ajukan bantuan Rp1,2 T untuk 1,1 juta warga Suriah
Baca juga: PBB: Bashar Al Assad harus diadili di ICC

Otoritas interim Suriah harus meminta pertanggungjawaban mereka atas pembunuhan yang terjadi di kota tersebut, tambahnya.

Pemerintah Suriah telah menarik pasukannya dari wilayah Suwayda untuk mencegah eskalasi lebih lanjut, menurut laporan media lokal pada Jumat (18/7).

Langkah itu dinilai sebagai respons terhadap upaya mediasi Amerika Serikat dan negara-negara Arab.

Kantor berita resmi Suriah, SANA, mengutip pernyataan dari kantor kepresidenan yang menyebutkan bahwa keputusan untuk menarik pasukan sebagai komitmen pemerintah Suriah untuk menghindari eskalasi lebih lanjut,

Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA

 



Pewarta: Asri Mayang Sari
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026