Jakarta (ANTARA) - Pilot penerbang tempur umumnya kerap dianggap sebagai ujung tombak pertahanan di udara.
Dengan F-16, Sukhoi, Hawk100/200 sebagai tunggangannya, mereka bak raja di langit siap melibas musuh yang masuk ke wilayah Indonesia.
Kini, penerbang tempur bukan lagi raja di langit. Mereka bukan lah satu satunya yang bisa bermanuver ataupun meluncur bebas di udara.
Adalah pasukan Wingsuit Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) yang jadi andalan baru TNI AU dalam melancarkan serangan udara.
Mereka senyap, tidak se berisik mesin jet. Namun cepat dan tepat bak rudal yang meluncur ke target.
Pasukan Wingsuit Kopasgat adalah kelompok penerjun beranggotakan 10 personel yang menggunakan jubah bersayap.
Mereka terjun dari ketinggian 10.000 sampai 15.000 kaki dengan gaya meluncur. Jubah sayap yang mereka pakai membantu untuk meluncur dan bermanuver dengan cepat.
Seperti berselancar di udara, mereka bisa meluncur dengan kemiringan tertentu hingga akhirnya mendarat di titik tertentu menggunakan parasut.
Mereka dibentuk untuk menjalankan misi khusus seperti infiltrasi (masuk ke area musuh) secara senyap dan cepat. Setelah mendarat, mereka langsung menyusun strategi guna melangsungkan pertempuran di darat.
Komandan Tim Wingsuit Kopasgat, Lettu (Pas) Yudi Agung Prasetyo merupakan pemimpin dari ke 10 personel kelompok Wingsuit.
Dia merupakan salah satu pasukan Kopasgat pertama yang mempunyai keahlian terjun wingsuit yakni sejak 2018.
Namun, kala itu belum dibentuk pasukan khusus untuk penerjun wingsuit. Barulah di tahun 2024 Kopasgat secara resmi membentuk pasukan wingsuit yang terdiri dari 10 personel.
Yudi menilai, tidak semua pasukan bisa menjadi penerjun wingsuit. Mereka harus memiliki jam terbang minimal 1.500 jam sebagai penerjun free fall.
Free fall sendiri merupakan teknik terjun payung vertikal di mana penerjun akan membuka parasut di ketinggian tertentu.
Kemampuan itu merupakan dasar yang harus dimiliki penerjun wingsuit atau yang biasa disapa wingsuiter.
Tidak hanya itu, kemampuan infiltrasi di darat juga harus dimiliki pasukan karena nantinya mereka juga akan melakukan misi penyerbuan setelah mendarat.
Kemampuan fisik, intelijensi, kemampuan perhitungan yang cepat serta psikologi yang mendukung jadi rentetan syarat pasti yang dirasa tak perlu disebutkan lagi.
Proses latihan
Terjun wingsuit menuntut mereka untuk terbiasa menjadikan udara sebagai kendaraan utama. Mereka harus berselancar bebas dengan manuver tertentu hingga akhirnya masuk ke wilayah lawan.
Jubah wingsuit yang mereka pakai pun berjenis intermediate dan advance. Jubah itu cukup membawa penerjun menerjang udara dengan kecepatan 125 kilometer sampai 165 kilometer per jam.
Karena itu, untuk dapat bermanuver dalam kecepatan tersebut, dibutuhkan latihan yang rutin.
Sejak tahun 2024, Kopasgat sangat serius dalam urusan melatih wingsuiternya. Mereka sempat mendatangkan atlet wingsuit asal Australia yakni Ben "Dicko" Dixon dan Tahi-Paul
.Mereka dididik dari dasar hingga akhirnya menjadi penerjun wingsuit yang lihai seperti saat ini.
Bahkan hingga saat ini pun mereka kerap melakukan latihan rutin. Lettu Yudi memaparkan per pekan mereka bisa latihan 14 sampai 15 kali terjun.
Mereka melatih beragam manuver, salah satunya formasi 4-3-3 yang jadi andalan Wingsuiter Kopasgat.
Dalam formasi ini, wingsuiter dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama yakni empat penerjun pertama yang bertugas mencari titik lokasi pendaratan menggunakan GPS.
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026