Jakarta (ANTARA) - Karimata adalah grup musik jazz-fusion Indonesia yang aktif pada akhir 1986 hingga 1991 dan berhasil merilis lima album.

Sebagai sebuah band, hingga kini, Karimata  masih  aktif naik panggung. Terbaru, mereka  manggung di Prambanan Jazz, dan bakal hadir di BRI Jazz Gunung  Series I : Bromo pada  (19/7).

Band ini dikenal sebagai supergroup, karena anggotanya  pada waktu itu berasal dari musisi papan atas, seperti Aminoto Kosin, Candra Darusman, Denny TR, Erwin Gutawa, dan Uce Haryono (alm). Posisi Uce sempat berpindah ke Aldy, kemudian Budhy Haryono.

Lewat musikalitas tinggi dan eksplorasi genre yang berani memadukan musik jazz dan etnik Indonesia, Karimata meninggalkan jejak penting dalam sejarah musik Indonesia.

Buku Kolektif dari Komunitas Sahabat KariB

Hari ini, meski Karimata tak lagi seaktif dulu di panggung musik Indonesia, komunitas penggemar yang menamakan diri Sahabat KariB tetap solid dan mencintai band ini sama seperti dulu.

Terbukti, secara gotong royong mereka meluncurkan buku Lima Musim yang Berarti: Cerita Tentang Karimata. Buku setebal 222 halaman ini diterbitkan oleh ITB Press, dan menjadi bentuk dokumentasi sekaligus penghormatan atas perjalanan Karimata.

Buku ini ditulis secara kolektif oleh Sahabat KariB dan juga kontributor seperti Denny MR, Edo Musclive, Edy Suhardy, Abi Hasantoso, Burhan Abe, dan Frans Sartono—para jurnalis dan pemerhati musik yang mengikuti perjalanan Karimata sejak awal.

“Ini kerja kolektif yang luar biasa. Bisa disebut sebagai ensiklopedia Karimata. Padat, menarik, dan penuh makna sejarah,” ujar  Haryo K. Buwono, pimpinan tim penyusun.


Selain narasi, buku ini diperkuat dokumentasi visual yang berasal dari arsip pribadi para fotografer dan rekan dekat Karimata. Antara lain: Jay Subijakto, Andri Is, Omen Norman, Odi Auditya, Gideon Momongan, Charlie Hawks, Aria Sungkono, Dewanto Anto Gendut, Haryo K. Buwono, Heru Sungkono, dan dibantu Oleg Sanchabakhtiar sebagai konsultan fotografi.


“Semua foto telah mendapat izin tertulis dari fotografer maupun ahli waris, termasuk karya almarhum Didi Haju, manajer awal Karimata,”
ujar Aria, Sahabat KariB dari Bandung yang masuk dalam Tim Buku  dan  berperan di Kehumasan juga menyumbang foto.

Lima Musim: Tahun Aktif, Album, dan Lama Penulisan

Judul Lima Musim yang Berarti merujuk pada lima tahun masa aktif Karimata (1986–1991), lima album yang mereka rilis, sekaligus lima tahun proses penyusunan buku ini.

Gagasan awal datang dari Triawan “Babe” Koeshardianto, mantan manajer Karimata saat album Jezz (1991).

Babe menyusun buku ini dengan gaya novel, namun meninggal dunia sebelum naskah selesai. Penulisan lalu dilanjutkan oleh Ayu dari Yogyakarta, yang juga wafat di tengah jalan.

“Bab novel yang ditulis Babe dan Ayu kami biarkan tanpa disunting, demi menghormati cerita yang telah mereka bangun,” kata Ratna D. Ambarwati, salah satu penulis.

Riset Tak Mudah, Dokumentasi Terbatas, Ingatan Memudar

Menurut Aria, tantangan utama dalam penulisan buku ini adalah minimnya dokumentasi sejarah dan memudarnya ingatan para pelaku.

“Misalnya soal Karimata tampil di North Sea Jazz Festival 1986—rata-rata sudah lupa siapa yang berangkat dan berapa lama mereka tampil,”
ungkapnya.


Yang istimewa, buku ini juga memuat partitur dari 10 lagu hits Karimata, yang ditulis ulang oleh Anto dan sudah mendapatkan approval dari masing-masing pencipta. Bahkan di nomor Seng Ken Ken, Aminoto Kosin, sang profesor sendiri yang menuliskan partiturnya.

Salah satu personel Karimata, Candra Darusman, memberi apresiasi besar atas terbitnya buku ini.

“Kalau buku ini bisa bicara, ia adalah simbol hubungan tanpa pamrih seorang sahabat. Ia juga mencerminkan identitas bangsa Indonesia yang suka tolong-menolong,” ujarnya.

Ia menambahkan kehadiran buku ini menjadi semacam obat yang membawa kegembiraan. Tapi saya agak malu karena kontribusi saya di buku ini tidak banyak.”



Pewarta: Antara
Editor : Feru Lantara

COPYRIGHT © ANTARA 2026