Jakarta (ANTARA) - Sudah banyak pakar ekonomi yang menyatakan bahwa perang tarif perdagangan tidak akan menghasilkan pemenang, tetapi justru akan banyak pihak yang merugi dan kesejahteraan secara umum menurun karena inflasi semakin meningkat.

Selaras dengan fakta tersebut, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum dan Perdana Menteri Kanada Justice Trudeau juga telah menegaskan bahwa tidak ada pemenang dalam perang dagang. Kedua negara yang merupakan tetangga terdekat Amerika Serikat itu menjadi target utama AS, selain China, dalam perang tarif Trump.

Pada masa kini, selain Kanada dan Meksiko, China juga menjadi sasaran tembak dari kebijakan tarif yang ditelurkan oleh Trump. China melalui berbagai pejabatnya juga berulang kali mengingatkan bahwa "tidak ada pemenang dalam perang dagang".

Menurut kantor berita Associated Press, Menteri Perdagangan China Wang Wentao pada Kamis (6/3) mengingatkan bahwa intimidasi dan ancaman kepada Tiongkok pasti akan gagal, serta Beijing telah melakukan kebijakan balasan dengan menaikkan bea masuk produk AS serta pembatasan lainnya pada korporasi Negeri Paman Sam itu.

Berbagai kebijakan yang diungkapkan oleh Mendag China itu secara teori merupakan langkah yang bagus untuk meredam dampak dari kebijakan perang tarif yang dilancarkan Trump. Namun, apakah berbagai strategi yang telah dikemukakan tersebut merupakan sebuah langkah jitu yang dapat membuat Tiongkok menjadi "pemenang" dalam perang tarif Trump ini?

Kecipratan untung

Bila menilik kepada berbagai contoh dalam sejarah, biasanya negara yang kerap diuntungkan dalam perang tarif dagang adalah negara yang mampu menguasai pangsa pasar hasil dari peralihan perdagangan dari negara-negara yang terlibat. Ambil contoh dalam perang dagang antara AS dan China pada 2018-2020, yang berlangsung pada masa pertama kepresidenan Trump.

Sejumlah negara yang mampu memperoleh keuntungan selama konflik tarif antara dua negara adidaya itu adalah Vietnam, yang merupakan penerima manfaat utama dari perang tarif dagang tersebut. Hal ini karena ketika AS mengenakan tarif pada produk Tiongkok, maka banyak perusahaan yang mencari basis manufaktur alternatif, dan Vietnam adalah pilihan yang menarik bagi korporasi yang ingin mendiversifikasi rantai pasokan dari China.

Hasilnya, banyak produsen yang memindahkan produksi mereka dari China ke Vietnam untuk menghindari tarif AS atas barang-barang China. Akibatnya, Vietnam mengalami peningkatan yang signifikan dalam ekspor mereka, terutama dalam sektor elektronik, tekstil, dan furnitur, sehingga ke depannya memanfaatkan pula model industri China yang berorientasi ekspor dan mengembangkan basis manufakturnya sendiri.

Negara lainnya yang juga kecipratan untung dengan menjadi basis manufaktur produksi menarik di luar China, antara lain adalah India (yang mampu memanfaatkan biaya tenaga kerja yang lebih rendah serta memperluas basis industri dalam mengisi kesenjangan dalam rantai pasokan global dampak perang tarif), Korea Selatan (unggul dalam manufaktur bidang elektronik sehingga mampu mengambil manfaat), dan negara-negara kawasan Uni Eropa (alternatif AS dalam mencari produk yang terkena kenaikan tarif oleh China).

Mereka yang berhasil mengambil manfaat dari perang tarif adalah berbagai pihak yang tidak menjadi pelaku utama dalam konflik tarif dagang tersebut. Karena itu, berbagai negara seharusnya dapat mengambil pelajaran dalam hal ini bahwa sebaiknya sedari awal mereka tidak menjadi pihak yang mencetuskan tarif dagang atau menjadi sasaran utama dari perang dagang karena akan merugikan perekonomian mereka sendiri.

Namun, satu hal yang perlu disorot adalah pemenang sejati dalam persaingan perekonomian adalah mereka yang mampu beroperasi secara berkelanjutan dalam jangka panjang, dan di sinilah etika dan moralitas memainkan peran penting. Mengapa etika dan moralitas cenderung unggul dalam jangka panjang?

Baca juga: PM Trudeau sebut perang dagang dengan AS dapat terus berlanjut di masa mendatang
Baca juga: China tolak rencana tarif tambahan barang asal Tiongkok oleh AS dengan alasan fentanil



Pewarta: M Razi Rahman
Editor : Budi Setiawanto

COPYRIGHT © ANTARA 2026